Banyak Pria jadi Hikikomori, apa Penyebabnya?

MALE INSPIRE.id – Pada 2023 lalu, gaya hidup anti sosial mewabah di AS, di mana banyak pria usia produktif yang menjadi korban.

Tren ini berakar dari Jepang dan begitu meluas, sehingga orang Jepang memiliki nama khusus untuk tren tersebut: hikikomori.

Sebagaimana dilansir laman Mirror, hikikomori merupakan kondisi di mana individu menghindari situasi sosial sampai pada tahap berdiam diri di rumah, terisolasi selama setidaknya enam bulan tanpa interaksi sosial.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Istilah hikikomori secara resmi diakui dan didefinisikan di Jepang pada 1990-an oleh Saito Tamaki. Sejak saat itu, psikolog telah memperdebatkan apakah hikikomori harus diklasifikasikan sebagai gangguan psikiatrik atau sindrom budaya.

Menurut ahli ekonomi politik AS, Nicholas Eberstadt, tren hikikomori telah menyebar ke Negeri Paman Sam itu.

Dalam wawancara dengan podcaster Inggris Chris Williamson, Eberstadt mengatakan bahwa ada tujuh juta pria usia produktif yang menganggur dan tidak mencari pekerjaan di AS.

Menurut Eberstadt, sebagian besar pria tersebut menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam rumah, sepenuhnya menarik diri dari masyarakat. Mereka cenderung menghabiskan waktu dengan bermain video game, menonton film dewasa, dan menggunakan obat-obatan terlarang.

Studi yang dilakukan para ahli di Kyushu University, Jepang mengungkapkan rendahnya kadar testosteron dapat menjadi salah satu tanda metabolisme paling umum dari pria muda yang menjadi hikikomori.

Baca juga: Apakah Testosteron dapat Memperbesar Ukuran Penis?

Hal ini ada kaitannya dengan tren hikikomori di AS, karena kadar testosteron dilaporkan turun secara drastis pada pria muda di negeri itu selama bertahun-tahun.

Setidaknya, satu dari empat pria di AS dilaporkan terpengaruh oleh rendahnya kadar testosteron. Testosteron biasanya dikaitkan dengan perilaku anti-sosial dan agresi.

Kadar testosteron yang rendah pada pria dikaitkan dengan kecemasan sosial dan perilaku yang menyerah atau menghindari kehidupan sosial. Individu dengan kecemasan juga berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan depresi, dan rendahnya kadar testosteron bahkan dapat meniru gejala depresi.

Studi oleh ilmuwan di Emory University, Atlanta, Georgia mengidentifikasi cara di mana kadar testosteron bisa memengaruhi hipotalamus, bagian dari otak yang bertanggung jawab atas pembentukan hormon oksitosin. Hormon yang juga kerap disebut hormon cinta ini memediasi risiko penarikan sosial, dan kadar hormon itu naik seiring meningkatnya kadar testosteron.

Apakah hikikomori termasuk gangguan mental?

Awalnya, psikolog mengira hikikomori tumbuh dari kondisi sosial budaya khusus Jepang. Tetapi tren penarikan diri dari kehidupan sosial itu telah ditemukan di berbagai negara dengan kondisi sosial budaya yang sangat berbeda, seperti India, Korea Selatan, Nigeria, Spanyol, Kanada, dan AS.

Pandemi Covid-19 diperkirakan memiliki pengaruh terhadap prevalensi hikikomori, di mana para psikolog menyatakan kekhawatiran periode isolasi sosial mungkin telah memperpanjang kondisi bagi beberapa orang, dan bahkan memicu kasus-kasus baru.

Baca juga: Mimpi Kehilangan Pekerjaan, Mungkin ini Sebabnya

Hikikomori didiagnosis ketika individu menunjukkan perilaku anti sosial yang parah selama setidaknya enam bulan, yang menyebabkan penderitaan dan disfungsi. Perilaku anti sosial ini termasuk menolak meninggalkan rumah untuk bekerja atau pergi ke sekolah, serta menarik diri dari komunikasi sosial.

Beberapa psikolog sudah membuat kerangka untuk mengelompokkan hikikomori berdasarkan seberapa sering individu meninggalkan rumah.

Individu dengan kasus ringan meninggalkan rumah rata-rata dua hingga tiga kali seminggu, hikikomori sedang meninggalkan rumah hanya sekali seminggu, dan mereka dengan hikikomori parah dikatakan jarang meninggalkan rumah.

Dalam beberapa kasus, mereka yang mengalami hikikomori bertahan selama rata-rata satu hingga empat tahun, tetapi kasus itu dapat berlanjut selama lebih dari satu dekade.

Saat ini hikikomori tidak dikategorikan sebagai gangguan mental, tetapi seringkali dapat terjadi bersamaan. Kondisi terkait meliputi gangguan autisme, gangguan suasana hati, gangguan psikotik, dan gangguan kepribadian.

Namun, psikolog sepakat bahwa hikikomori dapat dialami tanpa adanya gangguan mental.

Mengapa seseorang menjadi hikikomori?

Tanpa adanya gangguan mental, perilaku anti sosial disebut sebagai hikikomori primer. Sedangkan jika disertai gangguan mental, maka hal itu disebut hikikomori sekunder.

Penyebab hikikomori belum sepenuhnya diketahui. Namun para praktisi menduga, kondisi itu bisa berkembang setelah peristiwa stres yang dialami seseorang dan memicu perilaku anti sosial.

Studi lain menemukan, hikikomori terkait dengan tidak adanya aturan dalam keluarga yang efektif.

Peneliti M. Suwa dan K. Suzuki menemukan, hikikomori primer sering kali disajikan sebagai episode kekalahan tanpa perjuangan, citra yang berasal dari keinginan orang lain (bukan diri sendiri), menjaga citra ideal, investasi orangtua dalam diri anak, dan perilaku menghindar untuk menjaga opini positif dari orang lain.

Peran media sosial dan internet dalam fenomena hikikomori

Studi juga mengungkap bahwa peningkatan tekanan sosial seiring maraknya penggunaan media sosial dan internet turut berperan dalam fenomena hikikomori.

Para peneliti mencatat, prevalensi hikikomori bisa terkait dengan perubahan cara kita berkomunikasi dan seberapa jauh jangkauan komunikasi kita.

Dengan adanya internet dan media sosial, orang dapat berkomunikasi, membentuk pertemanan, dan kelompok tanpa harus bertemu secara langsung, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan untuk membentuk hubungan emosional.

Internet dan media sosial juga bisa menjadi alat bagi mereka yang mengalami hikikomori untuk tidak keluar rumah mencari hubungan sosial.

Meski begitu, beberapa peneliti dan psikolog juga mengakui dampak positif dari media sosial dan internet sebagai sarana bagi individu untuk mengakses bantuan dan dukungan bagi mereka yang menderita hikikomori.

Bahkan, beberapa pria muda yang pernah mengalami hikikomori memanfaatkan media sosial untuk menjangkau orang lain yang mengalami kondisi serupa, menciptakan grup dan mendorong pertemuan sosial dengan sesama penderita hikikomori.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*