MALEINSPIRE.id – Korban gaslighting pasangan sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang mengalami manipulasi emosional.
Perilaku ini kerap dibungkus dengan perhatian, rasa sayang, atau dalih demi kebaikan hubungan, sehingga sulit dikenali pada tahap awal.
Dalam hubungan romantis, gaslighting bisa membuat seseorang perlahan kehilangan rasa percaya diri, meragukan penilaian dirinya sendiri, hingga bergantung secara emosional pada pasangan.
Tanpa disadari, hubungan yang seharusnya memberi rasa aman justru berubah menjadi sumber tekanan psikologis bagi korban gaslighting pasangan.
Menurut pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, salah satu tanda paling jelas dari korban gaslighting pasangan adalah kebiasaan meminta maaf secara berlebihan.
“Ciri yang paling terlihat biasanya mereka mudah meminta maaf, bahkan ketika situasi tersebut bukan kesalahannya,” kata Fitri.
Apa Itu Gaslighting dalam Hubungan?
Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan persepsi, ingatan, atau penilaiannya sendiri.
Dalam hubungan romantis, pelaku biasanya memutarbalikkan fakta, mengecilkan emosi pasangan, atau membuat korban merasa bersalah atas masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Akibatnya, korban perlahan kehilangan keyakinan terhadap dirinya sendiri dan mulai menggantungkan validasi emosional kepada pasangan.
Manipulasi ini sering tidak terlihat agresif di permukaan. Justru, gaslighting kerap muncul lewat kalimat sederhana seperti:
- “Kamu terlalu sensitif.”
- “Aku cuma bercanda.”
- “Kamu salah ingat.”
- “Kalau kamu lebih baik, aku enggak akan marah.”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sepele, tetapi jika terus diulang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang dalam jangka panjang.
Tanda Korban Gaslighting Pasangan yang Perlu Diwaspadai
1. Terlalu Sering Meminta Maaf

Salah satu tanda paling umum adalah kebiasaan meminta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali.
“Misalnya pasangan terlambat karena macet, ada kecelakaan di jalan, atau banjir, tetapi dia tetap merasa perlu meminta maaf,” kata Fitri.
Korban gaslighting pasangan biasanya merasa bertanggung jawab menjaga suasana hati pasangan, bahkan ketika dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.
2. Mudah Menyalahkan Diri Sendiri
Korban gaslighting pasangan cenderung percaya bahwa setiap konflik terjadi karena kekurangannya.
Mereka mulai merasa kurang baik, entah dari sisi fisik, finansial, pencapaian hidup, atau latar belakang sosial.
Lama-kelamaan, pola pikir ini membuat seseorang kehilangan penghargaan terhadap dirinya sendiri.
3. Takut Mengungkapkan Isi Pikiran
Korban gaslighting pasangan biasanya menjadi sangat berhati-hati saat berbicara dengan pasangan.
Mereka takut pendapatnya dianggap salah, berlebihan, atau memicu pertengkaran.
“Karena rasa percaya dirinya menurun, mereka jadi sulit menyampaikan pendapat dan cenderung bergantung pada pasangan,” tutur Fitri.
Situasi ini membuat hubungan menjadi tidak seimbang karena satu pihak terus mendominasi secara emosional.
4. Muncul Rasa Takut Berlebihan pada Pasangan
Psikolog Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., menilai rasa takut yang berlebihan saat pasangan menunjukkan emosi juga perlu diwaspadai.
“Ketika pasangan bereaksi secara emosional, entah marah atau sedih, rasa takutnya muncul secara berlebihan,” ujar Adelia.
Konflik dalam hubungan sebenarnya normal.
Namun, jika seseorang merasa sangat takut setiap kali pasangan kecewa atau marah, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal hubungan yang tidak sehat secara emosional.
Dampak Gaslighting terhadap Kesehatan Mental

Gaslighting tidak hanya memengaruhi hubungan, tetapi juga kesehatan mental korban secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, korban bisa mengalami:
- Kehilangan rasa percaya diri
- Kecemasan berlebih
- Ketergantungan emosional
- Kesulitan mengambil keputusan
- Burnout emosional
Korban juga sering kesulitan melihat situasi secara objektif karena pikirannya dipenuhi rasa takut ditinggalkan atau dianggap buruk oleh pasangan.
Cara Mengatasi Gaslighting dalam Hubungan
Fitri menyarankan korban gaslighting pasangan untuk mulai berbicara dengan orang terpercaya atau tenaga profesional agar mendapatkan sudut pandang yang lebih objektif.
“Mereka bisa membantu kita melihat situasi dari perspektif lain sehingga perlahan pola pikir kita mulai terbuka,” ujarnya.
Dukungan dari luar penting karena korban gaslighting biasanya sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Setelah menyadari situasi tersebut, seseorang dapat menentukan langkah berikutnya, mulai dari mengomunikasikan masalah dengan pasangan hingga mempertimbangkan mengakhiri hubungan jika kondisi semakin merusak kesehatan mental.