MALEINSPIRE.id – Pandemi “Black Death” bukan sekadar catatan usang dalam buku sejarah, melainkan sebuah peringatan tentang betapa dahsyatnya dampak serangan patogen terhadap populasi global di masa lalu.
Berawal dari wilayah Asia dan menyebar hingga ke daratan Eropa pada Abad Pertengahan, wabah ini tercatat telah memusnahkan sepertiga populasi benua tersebut.
Penyakit pes yang menjadi dalangnya dianggap sebagai salah satu pembunuh paling mematikan dalam sejarah manusia, hanya kalah dari cacar, dan bahkan sempat memicu ketakutan akan penggunaannya sebagai senjata biologis.
Meskipun kasusnya masih muncul secara sporadis di berbagai belahan dunia saat ini, pes tidak lagi mematikan seperti dulu berkat penemuan antibiotik.
Namun, memahami bagaimana penyakit ini bekerja tetaplah penting bagi kita semua.
Black Death dan Wabah Besar Lainnya

Seperti dilansir National Geographic, sebelum ilmu pengetahuan berhasil mengungkap penyebabnya, dunia telah dihantam oleh tiga gelombang besar penyakit pes.
Gelombang pertama yang terdokumentasi dengan baik adalah Wabah Justinian pada tahun 542 M.
Dinamai sesuai kaisar Bizantium saat itu, pandemi ini menelan korban hingga 10.000 jiwa per hari di Konstantinopel, Turki.
Namun, yang paling membekas dalam ingatan kolektif dunia tentu saja adalah Black Death.
Bermula di China pada tahun 1334, wabah ini menyebar dengan cepat melalui jalur perdagangan dan mencapai pelabuhan-pelabuhan di Sisilia pada akhir 1340-an.
Diperkirakan 25 juta orang tewas akibat serangan ini.
Black Death terus menghantui kota-kota besar selama berabad-abad, termasuk Wabah Besar London (1665-1666).
Baru pada gelombang ketiga yang dimulai di China tahun 1860, para ilmuwan akhirnya berhasil mengidentifikasi penyebab sebenarnya dari malapetaka ini.
Mengenal Jenis-jenis Pes: Dari Bubonik hingga Pneumonik
“Black Death” sebenarnya merujuk pada pes jenis bubonik, bentuk yang paling umum ditemukan.
Nama ini diambil dari munculnya buboes —pembengkakan kelenjar getah bening yang menyakitkan di area selangkangan, ketiak, atau leher.
Kulit penderita sering kali menghitam, yang kemudian melahirkan julukan menyeramkan tersebut.
Selain bubonik, terdapat jenis yang lebih berbahaya:
-
Pes Pneumonik: Tahap lanjut yang menyerang paru-paru. Ini adalah jenis paling menular karena dapat menyebar langsung antarmanusia melalui partikel udara saat penderita batuk.
-
Pes Septikemik: Terjadi ketika bakteri menginfeksi aliran darah.
Jika tidak segera diobati, pes pneumonik dan septikemik memiliki tingkat kematian yang mencapai hampir 100 persen.
Bagaimana Bakteri Yersinia pestis Menyerang Manusia?

Penyebab dari semua kengerian ini adalah bakteri berbentuk batang yang sangat virulen bernama Yersinia pestis.
Bakteri ini memiliki kemampuan luar biasa untuk melumpuhkan sistem kekebalan tubuh inangnya dengan cara menyuntikkan racun ke dalam sel pertahanan, seperti makrofag.
Setelah sistem pertahanan lumpuh, bakteri ini akan berkembang biak tanpa hambatan.
Hewan mamalia kecil seperti tikus, tupai, dan kelinci bertindak sebagai inang alami bakteri ini.
Namun, “aktor intelektual” yang menularkannya kepada manusia bukanlah tikus itu sendiri, melainkan kutu yang hidup pada tubuh mereka, yakni Xenopsylla cheopis.
Ketika tikus mati akibat infeksi, kutu-kutu ini akan mencari inang baru, dan gigitan mereka itulah yang menyebarkan bakteri ke tubuh kita.
Pencegahan dan Penanganan di Era Modern
Meskipun saat ini pes masih diklasifikasikan sebagai patogen kategori A karena risikonya yang tinggi jika digunakan sebagai senjata biologis, kita tidak perlu panik berlebihan.
Kebanyakan orang saat ini dapat selamat berkat diagnosis cepat dan pengobatan antibiotik yang tepat.
Langkah pencegahan terbaik yang bisa kita lakukan adalah menjaga praktik sanitasi yang baik dan pengendalian hama guna meminimalkan kontak dengan kutu serta hewan pengerat yang terinfeksi.
Dengan kemajuan medis saat ini, malapetaka seperti yang terjadi pada masa Black Death diharapkan tidak akan pernah terulang kembali di masa depan.