Dampak Overwork yang Sering Diabaikan, dari Burnout hingga Risiko Penyakit Jantung

dampak overwork

MALEINSPIRE.id – Dampak overwork semakin menjadi perhatian di tengah budaya kerja modern yang kerap menganggap jam kerja panjang sebagai simbol produktivitas dan dedikasi.

Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa bekerja terlalu lama justru dapat merusak kesehatan secara perlahan, baik fisik maupun mental.

Di Indonesia, fenomena ini bukan sekadar kasus individual.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 37,3 juta pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Jumlah tersebut setara dengan hampir seperempat total angkatan kerja nasional.

Jam kerja berlebihan yang berlangsung terus-menerus menempatkan pekerja pada dampak overwork atau kelelahan kerja kronis.

Kondisi ini tidak hanya memicu rasa lelah biasa, tetapi juga berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan serius.

Dampak Overwork terhadap Kesehatan Tubuh

dampak overwork

Berbagai studi kesehatan global menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat ratusan ribu kematian setiap tahun sebagai dampak overwork dan stres kronis.

“Ketika stres terjadi terus-menerus, hormon seperti kortisol dan adrenalin akan memberikan tekanan besar pada sistem kardiovaskular,” kata dr Danielle Qing, dokter penyakit dalam dari Mount Sinai, dikutip dari New York Post.

Stres berkepanjangan membuat tubuh berada dalam mode siaga terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mempercepat kerusakan organ dan menurunkan kualitas hidup seseorang.

Dampak overwork terhadap kesehatan fisik antara lain:

1. Gangguan Tidur dan Kelelahan Kronis

Salah satu dampak overwork paling umum adalah terganggunya pola tidur. Banyak pekerja kesulitan “mematikan” pikirannya setelah jam kerja panjang berakhir.

Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup. Kondisi ini dapat berkembang menjadi kelelahan kronis yang membuat energi terus menurun meski sudah beristirahat.

2. Masalah Pencernaan hingga Daya Tahan Tubuh Menurun

Stres akibat pekerjaan juga memengaruhi sistem pencernaan. Tidak sedikit pekerja mengalami perut kembung, sembelit, hingga sindrom iritasi usus karena tekanan mental yang berkepanjangan.

Selain itu, tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa jeda cenderung mengalami penurunan sistem imun, sehingga lebih mudah terserang infeksi.

3. Nyeri Leher dan Punggung Akibat Duduk Terlalu Lama

Rutinitas kerja dengan posisi duduk berjam-jam juga meningkatkan risiko nyeri leher dan punggung.

Postur tubuh yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik memperburuk kondisi ini, terutama bagi pekerja kantoran.

Psikolog Adam Borland, PsyD, dari Cleveland Clinic mengibaratkan tubuh manusia seperti kendaraan dengan kapasitas energi terbatas.

“Tubuh kita seperti mobil dengan tangki bensin yang tidak tak terbatas. Jika terus dipaksa berjalan tanpa istirahat, performanya akan menurun dan risiko kerusakan meningkat,” ujar Borland.

Dampak Overwork pada Kesehatan Mental

dampak overwork

Selain menyerang fisik, dampak overwork juga sangat terasa pada kondisi psikologis seseorang.

Jam kerja panjang yang terus menggerus waktu pribadi dapat meningkatkan risiko burnout, kecemasan, hingga depresi.

Ketika pekerjaan mulai mengambil alih seluruh ruang hidup, seseorang perlahan kehilangan keseimbangan emosionalnya.

Psikolog klinis Randy Simon, PhD, mengatakan salah satu tanda paling jelas dari overwork adalah ketidakmampuan menikmati waktu luang.

“Ketika seseorang tidak lagi bisa menikmati hari libur atau waktu bersama keluarga karena pikirannya terus tertarik pada pekerjaan, itu sudah menjadi kondisi yang tidak sehat,” kata Simon, dikutip dari Healthline.

Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa memicu isolasi sosial dan meningkatkan risiko perilaku tidak sehat, seperti konsumsi alkohol berlebihan atau pola hidup yang tidak teratur.

Overwork di Indonesia dan Realitas Dunia Kerja

Fenomena overwork di Indonesia menunjukkan persoalan yang lebih kompleks dibanding sekadar gaya hidup sibuk.

Survei Sakernas BPS mencatat beberapa provinsi seperti Gorontalo, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur memiliki tingkat pekerja overwork tertinggi, dengan lebih dari 30 persen pekerja bekerja di atas 49 jam per minggu.

Ironisnya, jam kerja panjang tersebut tidak selalu sejalan dengan tingkat kesejahteraan yang memadai.

Di sejumlah wilayah, rata-rata upah pekerja masih berada di bawah Rp3 juta per bulan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak overwork bukan hanya persoalan individu yang sulit mengatur waktu, tetapi juga berkaitan dengan sistem kerja dan tekanan ekonomi yang lebih luas.

Kapan Harus Waspada?

Para ahli menyarankan pekerja mulai memperhatikan kondisi tubuh dan mentalnya sebelum dampak overwork berkembang menjadi masalah serius.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Kelelahan berkepanjangan
  • Sulit tidur
  • Mudah jatuh sakit
  • Kehilangan motivasi
  • Mudah marah
  • Merasa hampa terhadap pekerjaan

Borland menegaskan bahwa bantuan profesional perlu dipertimbangkan jika kondisi tidak membaik meski sudah mencoba membatasi jam kerja dan memperbaiki pola hidup.

“Jika batasan kerja dan upaya perawatan diri sudah dilakukan tetapi kondisi tetap tidak membaik, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor sangat dianjurkan,” ujarnya.