Dwayne Johnson Ungkap Perjuangannya Menghadapi Depresi

MALE INSPIRE.id – Aktor sekaligus mantan pegulat profesional Dwayne Johnson sering diidentikkan sebagai pria tangguh atau gagah di hadapan publik.

Namun di balik stigma tersebut, The Rock –julukan bagi sang aktor– juga pernah menunjukkan sisi rentan dalam hidup.

Johnson mengungkapkan perjuangannya menghadapi masalah kesehatan mental ketika masih remaja.

Baca juga: Banyak Pria jadi Hikikomori, apa Penyebabnya?

Di masa itulah, ia menyadari orang yang sedang rentan dan memerlukan bantuan dari orang lain bukanlah orang yang tidak jantan.

“Saya pertama kali mengalami depresi di usia 18 tahun, dan saya tidak tahu apa itu depresi,” sebutnya, seperti dilansir laman Men’s Health.

“Ketika itu, depresi digambarkan sebagai beranjak bangun dan menyelesaikan masalah, dan mengubah sesuatu yang terjadi.”

Perjuangan Dwayne Johnson menghadapi depresi

Sebelum tersohor di industri perfilman Hollywood, Johnson pernah bercita-cita menjadi pemain football profesional Amerika saat remaja.

Tetapi nasib malang menimpa dirinya ketika bermain untuk program football Miami University. Ia mengalami cedera bahu serius yang memerlukan tindakan operasi.

Mimpi Johnson menjadi pemain football profesional hancur, dan itu berdampak pada kesehatan mentalnya.

“Saya tidak ingin pergi ke sekolah, saya meninggalkan sekolah, saya tidak mengikuti ujian tengah semester,” kenang Johnson dalam wawancara di podcast The Pivot, dikutip Los Angeles Times.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja

“Saat itu saya tidak tahu apa itu kesehatan mental, apa itu depresi, saya hanya tahu bahwa saya tidak ingin berada di sana.”

Dalam podcast The Pivot, pemeran film Jumanji itu juga membagikan perjalanannya melewati beberapa kali fase depresi di usia dewasa.

Pengalaman lain yang membuatnya depresi terjadi saat ia bercerai dari istri pertamanya, Dany Garcia pada 2008. Ketika itu, Johnson mengaku masih belum tahu apa itu depresi, dan ia menghadapinya seorang diri.

Ketika kesehatan mentalnya kembali menurun sekitar tahun 2017, barulah pria kekar itu dapat mengidentifikasi permasalahannya sebagai depresi.

“Beruntung pada saat itu, saya memiliki beberapa teman yang bisa saya andalkan dan berkata, ‘saya merasa agak rentan sekarang, ada sedikit masalah’,” terang suami Lauren Hashian tersebut.

Menyelamatkan nyawa sang ibu

Ibu Johnson juga memiliki pengalaman sendiri dengan depresi.

Dalam wawancara dengan UK Express pada 2019, Johnson mengaku pernah menyelamatkan ibunya dari upaya bunuh diri saat ibunya hendak melangkah ke jalan raya di Nashville. Saat itu, usia Johnson masih 15 tahun.

“Saya menarik ibu kembali ke bahu jalan yang berkerikil,” tuturnya mengisahkan.

“Kami berdua sembuh, tetapi kita harus berusaha sebaik mungkin untuk memperhatikan ketika orang lain sedang dalam masalah. Kita harus membantu mereka melewatinya dan mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian.”

Baca juga: Introvert vs Social Anxiety, Serupa Tapi Tak Sama

Bangkit dan mencari bantuan

Setelah mempertimbangkan masalah kesehatan mental yang dialaminya, Johnson lantas mencari dukungan emosional.

Dia juga menyadari bahwa tidak semua masalah bisa ditangani sendirian.

Menurut Johnson, hal terpenting saat seseorang sedang rentan atau depresi adalah berkomunikasi dan meminta bantuan.

“Meminta bantuan bukanlah bentuk kelemahan. Meminta bantuan adalah kekuatan super kita,” papar dia.

“Kita, laki-laki, sering jatuh ke dalam perangkap yang merugikan kondisi kerentanan kita, karena kita selalu ingin merasa kuat dan mampu menghadapi dunia.”

Ia menambahkan agar setiap pria belajar menerima kerentanan dan memahami gagasan bahwa manusia tidak bisa menyelesaikan segala masalah sendirian.

“Sering kali dalam hidup, saat Anda melangkah, Anda membutuhkan bantuan, dan itu semua bagian dari kehidupan,” jelas pria berusia 52 tahun itu.

Lakukan aktivitas positif

Johnson juga berlatih di gym sebagai cara untuk mengatasi depresi.

“Anda bisa pergi ke gym untuk berkeringat, mengeluarkan racun dari tubuh, dan mendapatkan pikiran yang lebih jernih saat meninggalkan gym. Cara ini tidak menyelesaikan masalah, tetapi bisa membantu,” lanjutnya.

Menjadi orangtua dan membesarkan ketiga putrinya, yakni Simone, Jasmine dan Tiana turut berkontribusi dalam menjaga kesehatan mentalnya.

“Penyelamat bagi saya adalah ketiga putri saya dan menjadi ayah mereka. Itulah yang menyelamatkan saya karena ketika Anda melihat mereka, Anda menyadari ketiga putri inilah yang sebenarnya penting.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*