Nasib Festival Seks di Korea Selatan Setelah Menuai Kecaman

MALE INSPIRE.id – Lee Hee Tae menaruh harapan besar pada festival seks yang hendak dia selenggarakan di Korea Selatan.

Festival itu disebut-sebut olehnya sebagai festival seks yang pertama dan terbesar di Negeri Ginseng.

Ia bahkan sudah membayangkan akan ada 5.000 penonton berbondong-bondong untuk melihat aktor dan aktris film dewasa Jepang favorit mereka.

Rencananya, festival yang dijadwalkan pada 20-21 April 2024 itu diisi oleh peragaan busana, pameran mainan seks, dan beberapa permainan dewasa, yang melibatkan balon-balon yang meledak di antara tubuh orang-orang.

Namun hanya dalam kurun waktu 24 jam, festival ini dibatalkan.

Seperti dilansir laman BBC, Korea Selatan dikenal dengan pendekatan konservatif terhadap seks dan hiburan dewasa. Ketelanjangan di depan umum dan pertunjukan tari telanjang dilarang.

Menjual atau mendistribusikan pornografi merupakan tindakan ilegal, meskipun tidak ada larangan untuk mengonsumsi hal tersebut.

“Hampir setiap negara maju memiliki festival seks, tetapi di sini, di Korea Selatan, kami bahkan tidak memiliki budaya hiburan dewasa,” ujar Lee Hee Tae, yang perusahaannya –Play Joker– memproduksi film dewasa legal sebelum beralih menjadi penyelenggara acara.

Diwarnai aksi protes

Sekitar satu bulan sebelumnya, kelompok-kelompok hak asasi wanita dari Kota Suwon, tempat acara tersebut diadakan, melakukan protes. Mereka menuduh festival itu mengeksploitasi wanita di negara yang mengalami kekerasan gender.

Menurut kelompok itu, festival seks yang digagas Lee Hee Tae tidak ditujukan untuk kedua jenis kelamin. Iklan yang sangat didominasi oleh wanita dan berpakaian minim menunjukkan bahwa pemegang tiket kemungkinan besar adalah pria.

Wali kota setempat mengutuk festival tersebut karena diadakan di dekat sekolah dasar. Pihak berwenang mengancam akan mencabut izin lokasi jika acara tetap dilaksanakan.

Merasa frustasi, Lee berpindah lokasi. Tetapi rangkaian kecaman yang sama terjadi. Otoritas menuduh festival itu menanamkan pandangan yang menyimpang tentang seks dan bersikeras agar pemilihan lokasi tersebut dibatalkan.

Lee lalu menemukan sebuah kapal yang berlabuh di sungai di Seoul. Hanya saja, setelah mendapat tekanan dari dewan kota, pemilik kapal mengancam akan membuat barikade dan memutus aliran listrik jika promotor tetap melangsungkan festival.

Imbasnya, para pemegang tiket meminta pengembalian uang, yang membuat Lee harus merugi besar.

Nyaris kehabisan opsi, ia menemukan bar bawah tanah kecil di daerah Gangnam yang mewah di Seoul, yang dapat menampung sekitar 400 orang. Kali ini, dia merahasiakan lokasinya.

Dewan kota bertindak

Dewan kota di daerah Gangnam menulis surat kepada ratusan pemilik restoran di sana dan memperingatkan bahwa restoran mereka bisa ditutup jika menjadi tuan rumah festival, dengan menuduh festival tersebut berbahaya secara moral. Pemilik bar tidak gentar dan menyatakan festival bisa berlangsung.

Namun sehari sebelum festival digelar, para bintang film dewasa Jepang menarik diri. Agensi mereka mengatakan bahwa reaksi terhadap festival itu telah mencapai puncaknya dan para wanita khawatir mereka akan diserang dan bahkan ditikam.

Lee mengatakan ia terkejut dengan “kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya”, dan menambahkan ia telah menerima ancaman pembunuhan.

“Saya telah diperlakukan seperti penjahat tanpa melakukan sesuatu yang ilegal,” katanya.

Menurut dia, festival seks itu berada di dalam batas-batas hukum. Sebab, festival tersebut tidak menampilkan ketelanjangan atau tindakan seksual, mirip dengan acara yang diadakan Play Joker –tempat Lee bekerja– tahun lalu.

Ketika itu, Play Joker mengadakan parade seorang wanita di jalanan Seoul dengan hanya mengenakan kotak kardus, mengundang orang yang lewat untuk memasukkan tangan mereka ke dalam dan menyentuh payudara sang wanita.

Lee mengaku ingin menantang sikap Korea Selatan terhadap seks dan pornografi, yang terjebak di masa lalu.

“Pihak berwenang adalah orang-orang munafik. Jika orang-orang mengakses internet, mereka semua berbagi film dewasa. Lalu mereka akan logout dan berpura-pura tidak bersalah. Berapa lama lagi kita akan terus berpura-pura seperti ini?” tuturnya.

Reaksi warga yang beragam

Sebagian besar warga muda di Gangnam, tempat festival seks itu dijadwalkan, mempunyai pendapat yang berbeda.

Lee Ji-yeong, wanita berusia 35 tahun mengatakan dirinya bisa memahami tindakan dewan kota yang melarang festival seks.

Dia mengaku muak dengan festival tersebut karena mengomersialkan seks.

Namun, Moon Jang-won, karyawan di perusahaan IT berpendapat lain.

“Ini bukan pornografi dan mereka tidak melakukan sesuatu yang ilegal, jadi menurut saya (acara) itu tidak seharusnya dilarang,” sebutnya.

Sebagian besar lainnya sepakat bahwa dengan melarang festival itu, pihak berwenang telah melampaui batas.

“Larangan ini merupakan keputusan politisi tua dan konservatif yang ingin menarik pemilih yang lebih tua,” kata seorang warga bernama Yoo Ju.

“Generasi itu masih percaya seks harus disembunyikan,” lanjutnya, sembari menambahkan bahwa sikap anak muda terhadap seks berubah dan dia bersama teman-temannya membicarakan seks secara terbuka.

Akan diadakan kembali di bulan Juni

Kepada BBC, Play Joker menyebut pihaknya sedang berencana untuk kembali menjadi tuan rumah festival seks pada bulan Juni mendatang. Hanya saja, acara itu akan berskala lebih besar.

Lee mengklaim, kini sudah ada beberapa politisi yang mendukung penyelenggaraan acara tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*