5 Hal Unik yang Cuma Ada di Surabaya

MALE INSPIRE.id – Sebagai ibukota Jawa Timur dan kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki beragam destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan seperti Museum 10 November, Hotel Majapahit, Jembatan Merah, dan Museum House of Sampoerna.

Sajian kuliner yang ada di kota pahlawan seperti lontong balap, pecel semanggi, rujak cingur, dan tahu campur juga cukup memanjakan lidah. Maka tidak heran, jika Surabaya sangat menarik perhatian baik bagi turis lokal maupun mancanegara.

Jika berencana untuk liburan ke Surabaya, bersiaplah menghadapi berbagai hal dan budaya yang mungkin tidak akan Anda temukan di kota lain di Indonesia.

Baca juga: Tips Hemat dan Cepat a la ‘The Flash’ untuk Menyiapkan Liburan Akhir Pekan

Tanpa berlama-lama lagi, inilah lima hal unik yang cuma ada di Surabaya.

1. Warung penyetan di tiap sudut kota

Banyak sekali warung penyetan di berbagai sudut kota. Penyetan atau juga disebut lalapan ini umumnya terdiri dari nasi, lauk, sayur lalapan, dan sambal tomat atau sambal terasi. Ada pula penjual yang menambahkan serundeng dan bumbu kuning.

Kita bisa menemukan penjual penyetan saat siang, sore, hingga malam hari. Pengunjung bisa menikmati lauk seperti tahu, tempe, ayam, lele, bebek, dan telur dadar.

2. Nasi goreng merah

Di beberapa daerah termasuk Jakarta, nasi goreng cenderung berwarna cokelat muda atau gelap yang dihasilkan dari penggunaan kecap manis.

Namun lain halnya di Surabaya. Hampir bisa dipastikan, Anda akan kesulitan menemukan nasi goreng cokelat karena rata-rata nasi goreng di sana berwarna merah menyala atau merah terang.

Baca juga: Bakmi GM Rayakan Pangsit Goreng Day

Warna merah ini didapatkan dari pemakaian saus tomat sebagai salah satu bumbu wajib nasi goreng. Namun untuk bahan tambahan tidak jauh berbeda dari nasi goreng pada umumnya, seperti irisan ayam, telur yang diorak-arik, sawi, dan mentimun.

3. Dialek arek yang khas

Jawa Timur memiliki dialek yang berbeda di setiap daerah. Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, Jombang, dan sekitarnya menggunakan dialek arekan.

Meski sama-sama menggunakan Bahasa Jawa seperti wilayah Jawa Timur lain, dialek arekan ini dianggap lebih kasar daripada yang digunakan di daerah Ngawi, Tuban, Kediri Raya, dan sekitarnya.

Beberapa kosakata dalam dialek arekan yang umum digunakan seperti lapo (mengapa), sedangkan dalam bahasa sebagian besar Jawa Timur memakai kata nyapo.

Begitu pula kata “kamu” yang dalam dialek arekan menjadi koen atau kon, sementara bahasa Jawa Timur umum memakai kata awakmu atau kowe.

4. Kasar menunjukkan keakraban

Intonasi bicara tinggi dan kosakata yang kasar mungkin bisa membuat orang luar Surabaya terkejut. Namun, di balik kosakata yang kasar itu menunjukkan seberapa akrab seseorang dengan lawan bicaranya.

Baca juga: Royal Enfield Buka Gerai Eksklusif di Surabaya

Pernah mendengar kata janc*k atau c*k yang biasa dipakai orang Surabaya? Itu tidak selalu berarti kasar atau diucapkan dalam kondisi emosi saja, sebab orang Surabaya sering memakai kata tersebut kepada orang yang sudah dianggap akrab atau teman sebaya.

Meski demikian, hindari menggunakan kata janc*k kepada orang luar Surabaya karena mereka bisa menganggap Anda kasar, tidak sopan, dan jorok.

5. Lampu merah dengan durasi lama

Sebagai kota besar sekaligus kota metropolitan, kemacetan adalah pemandangan wajar di Surabaya. Meski ruas jalan utama di sana terbilang lebar, kondisi jalanan tetap saja macet, terutama saat jam sibuk.

Kepadatan lalu lintas dapat ditemui di perbatasan Surabaya-Gresik dan Surabaya-Sidoarjo, serta berbagai ruas jalan di pusat kota seperti Jalan Urip Sumoharjo-Basuki Rahmat dan Jalan Mayjen Sungkono.

Di samping kemacetan, pengguna jalan bisa berhenti di sekitar lampu merah dalam waktu lama. Surabaya mempunyai lampu merah dengan durasi terlama hingga 300 detik atau lima menit, yakni di kawasan Margorejo.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*