MALEINSPIRE.id – Selandia Baru kini menjadi perhatian wisatawan dunia setelah pemerintah negara tersebut menyiapkan kebijakan baru bagi turis asing yang ingin mengunjungi sejumlah destinasi alam ikonik.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memastikan lonjakan wisata tidak merusak kawasan konservasi yang selama ini menjadi kebanggaan Selandia Baru.
Pemerintah setempat mengumumkan rencana tersebut melalui Conservation Amendment Bill yang diperkenalkan di Wellington pada 7 Mei 2026.
Aturan baru itu membuka peluang penerapan biaya akses di beberapa lokasi wisata alam dengan jumlah kunjungan internasional tertinggi.
Di balik kebijakan tersebut, ada kekhawatiran yang semakin besar terhadap dampak pariwisata massal pada ekosistem alam yang rapuh.
Biaya Wisata Selandia Baru Berfokus pada Destinasi Alam Populer
Beberapa lokasi wisata paling terkenal di Selandia Baru disebut masuk dalam daftar kawasan yang berpotensi menerapkan tarif masuk bagi wisatawan asing.
Salah satunya adalah Milford Sound, destinasi legendaris yang dikenal lewat panorama tebing tinggi dan perairan dramatis.
Selain itu, jalur hiking Tongariro Alpine Crossing serta kawasan pesisir Cathedral Cove juga termasuk lokasi yang tengah dipertimbangkan.
Ketiga tempat tersebut selama bertahun-tahun menjadi magnet wisata internasional dan sering mengalami lonjakan pengunjung, terutama saat musim liburan.
Pemerintah menilai tingginya jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan dan pemeliharaan fasilitas wisata.
Wisatawan Asing Diminta Ikut Menjaga Kawasan Konservasi

Menteri Konservasi Selandia Baru, Tama Potaka, mengatakan kebijakan ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pariwisata global.
“Perubahan ini memungkinkan wisatawan internasional ikut berkontribusi dalam menjaga lokasi konservasi ikonik di Selandia Baru,” ujarnya.
Menurut Tama, wisatawan domestik tetap dapat menikmati akses gratis ke kawasan konservasi nasional.
Sementara itu, wisatawan asing diharapkan memberikan kontribusi yang dinilai wajar untuk membantu menjaga kualitas lingkungan dan pengalaman wisata.
Pendekatan tersebut dianggap sebagai cara untuk menciptakan sistem pariwisata yang lebih berkelanjutan tanpa sepenuhnya membatasi jumlah pengunjung.
Dana Konservasi Diproyeksikan Capai Ratusan Miliar Rupiah
Pemerintah Selandia Baru memperkirakan kebijakan ini dapat menghasilkan sekitar 60 juta dolar Selandia Baru per tahun, atau setara lebih dari Rp590 miliar.
Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk berbagai program konservasi, mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan situs budaya, hingga peningkatan fasilitas wisata seperti jalur trekking dan penginapan alam.
Meski begitu, besaran tarif resmi masih dalam tahap pembahasan.
Beberapa media lokal melaporkan biaya akses kemungkinan berada di kisaran 20 hingga 40 dolar Selandia Baru per kunjungan, bahkan dapat mencapai 50 dolar Selandia Baru untuk lokasi tertentu.
Tren Wisata Berkelanjutan Mulai Jadi Standar Global
Langkah Selandia Baru sebenarnya mencerminkan tren global dalam industri pariwisata.
Sejumlah negara mulai menerapkan biaya tambahan bagi wisatawan asing untuk mendukung konservasi dan menjaga kualitas destinasi wisata.
Situs bersejarah seperti Taj Mahal di India maupun Machu Picchu di Peru telah lebih dulu menerapkan sistem serupa.
Bagi banyak wisatawan, biaya tambahan tersebut dianggap sepadan jika mampu menjaga keaslian dan kelestarian destinasi yang mereka kunjungi.
Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, wisata kini tidak lagi sekadar soal menikmati pemandangan, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan dapat berlangsung tanpa mengorbankan alam yang menjadi daya tarik utamanya.