MALEINSPIRE.id – Depresi pada pria kembali menjadi sorotan setelah rangkaian peristiwa tragis di Jembatan Cangar, Kota Batu, Jawa Timur yang memantik keprihatinan publik sekaligus membuka diskusi tentang kesehatan mental, khususnya di kalangan pria.
Kasus bunuh diri yang terjadi dalam waktu berdekatan di Jembatan Cangar pada 31 Maret 2026 dan 23 April 2026 bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga menjadi pengingat bahwa tekanan emosional yang tidak tersalurkan bisa berujung fatal.
Di lokasi kejadian, sebuah banner bertuliskan “Laki-laki Harus Bercerita” terpasang sebagai ajakan sederhana namun bermakna: membuka ruang dialog bagi mereka yang selama ini memilih diam.
Sejumlah pengunjung yang hadir menilai peristiwa ini sebagai alarm kolektif agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi mental orang di sekitarnya.
Tekanan hidup yang dihadapi pria —mulai dari ekonomi, pekerjaan, hingga tuntutan sosial— sering kali dipendam sendiri tanpa ruang aman untuk berbagi.
Depresi pada Pria: Masalah Nyata yang Kerap Tersembunyi

Depresi pada pria bukan sekadar rasa sedih yang datang sesaat, melainkan kondisi kesehatan mental serius yang memengaruhi cara berpikir, emosi, hingga perilaku sehari-hari.
Apa yang membuatnya lebih kompleks adalah gejalanya sering tidak tampak seperti depresi pada umumnya.
Alih-alih menunjukkan kesedihan, banyak pria justru mengekspresikannya dalam bentuk kemarahan, perilaku agresif, atau bahkan tindakan berisiko.
Hal ini kerap membuat kondisi tersebut tidak terdeteksi sejak dini.
Gejala Pria Depresi yang Sering Tidak Disadari
Berbeda dari stereotip umum, tanda-tanda depresi pada pria sering muncul dalam bentuk yang lebih subtil:
- Perubahan perilaku: mudah marah, agresif, atau menarik diri dari lingkungan sosial
- Perubahan emosional: kehilangan minat, merasa hampa, sulit fokus
- Gejala fisik: kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan
- Perilaku pelarian: bekerja berlebihan, konsumsi alkohol, atau aktivitas berisiko
Kondisi ini sering kali diperparah oleh stigma sosial yang menganggap pria harus selalu kuat, sehingga banyak yang memilih memendam perasaan dibanding mencari bantuan.
Mengapa Depresi pada Pria Sering Terabaikan
Ada beberapa faktor yang membuat depresi pada pria sulit dikenali:
- Tekanan sosial: tuntutan menjadi “kuat” dan tidak emosional
- Kurangnya literasi mental: tidak memahami bahwa gejala yang dialami adalah depresi
- Stigma: rasa malu atau takut dianggap lemah
- Pola asuh: terbiasa menekan emosi sejak kecil
Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah berada pada tahap serius.
Penyebabnya
Depresi tidak muncul dari satu faktor tunggal. Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Biologis: ketidakseimbangan zat kimia otak
- Psikologis: trauma, stres berkepanjangan, pola pikir negatif
- Sosial: tekanan pekerjaan, masalah hubungan, kondisi ekonomi
- Gaya hidup: penyalahgunaan alkohol atau kurangnya dukungan sosial
Memahami akar masalah menjadi langkah penting untuk menentukan penanganan yang tepat.
Cara Mengatasi Secara Efektif
Kabar baiknya, depresi adalah kondisi yang bisa ditangani. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Psikoterapi: membantu mengubah pola pikir dan perilaku negatif
- Pengobatan: penggunaan antidepresan di bawah pengawasan dokter
- Perubahan gaya hidup: olahraga rutin, tidur cukup, dan pola makan sehat
- Dukungan sosial: berbicara dengan keluarga, teman, atau komunitas
Langkah sederhana seperti mulai bercerita bisa menjadi titik awal pemulihan.
Belajar dari Tragedi Cangar: Pentingnya Ruang untuk Bercerita
Tragedi di Cangar menunjukkan bahwa diam bukan solusi. Justru, keterbukaan menjadi kunci untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Kampanye seperti “Laki-laki Harus Bercerita” bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan nyata di tengah tekanan hidup modern.
Kesadaran bahwa depresi pada pria adalah masalah serius harus terus diperkuat.
Semakin cepat dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk pulih dan menjalani hidup dengan lebih sehat—secara mental maupun emosional.