MALEINSPIRE.id – Sweater Ryan Gosling di film Hail Mary mungkin terlihat sederhana pada pandangan pertama.
Tidak ada logo mencolok, warna neon, atau siluet futuristis yang biasa mendominasi tren fashion pria beberapa tahun terakhir.
Namun justru karena tampil biasa itulah sweater tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang.
Potongan oversized yang sedikit longgar, tekstur rajut klasik, dan nuansa vintage membuat penampilan Ryan Gosling terasa santai tanpa terlihat dipaksakan.
Efeknya langsung terasa di media sosial: orang-orang bukan hanya ingin membeli sweater rajutan serupa, tetapi juga mulai mencoba membuatnya sendiri.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana arah fashion pria mulai bergeser.
Bukan lagi sekadar tentang barang mahal atau tren yang sulit dijangkau, melainkan soal kedekatan, kenyamanan, dan sentuhan personal.
Sweater Ryan Gosling Menghidupkan Tren Pakaian Rajut Pria
Tak butuh waktu lama setelah cuplikan film Hail Mary beredar, komunitas perajut di internet mulai membedah detail sweater yang dikenakan Ryan Gosling.
Mereka menganalisis pola rajutan, jenis benang, hingga tekstur kain yang digunakan.
Beberapa kreator DIY bahkan mulai membagikan tutorial lengkap untuk membuat ulang tampilan sweater tersebut di rumah.
Menariknya, yang ramai bukan sekadar produk tiruan murah atau dupe fashion seperti biasanya.
Kali ini, yang viral justru paket knitting kit lengkap berisi benang, pola rajut, dan instruksi pembuatan sweater.
Brand rajut Mary Maxim bahkan merilis paket khusus bernama “Project Hail Mary” yang langsung habis terjual dalam waktu singkat.
Ribuan orang melakukan pre-order, sementara komunitas knit-along mulai bermunculan untuk membantu para pemula menyelesaikan proyek rajutan mereka bersama-sama.
Fashion Pria Kini Bergerak ke Arah yang Lebih Personal

Selama bertahun-tahun, industri fashion pria identik dengan akses dan status. Orang berlomba membeli item terbaru, sneakers eksklusif, atau koleksi limited edition demi terlihat relevan dengan tren.
Namun kemunculan sweater Ryan Gosling memperlihatkan perubahan menarik: orang kini mulai menikmati proses menciptakan pakaian mereka sendiri.
Merajut, yang dulu dianggap aktivitas kuno atau identik dengan generasi lebih tua, kini justru terasa relevan di tengah budaya serba cepat.
Ada sesuatu yang dianggap menarik dari proses yang lambat, detail, dan membutuhkan kesabaran.
Di saat algoritma media sosial terus mendorong konsumsi instan, aktivitas seperti merajut menawarkan pengalaman yang terasa lebih personal dan autentik.
Cerita di Balik Sweater Ryan Gosling
Sweater yang dikenakan Ryan Gosling ternyata juga memiliki cerita desain yang cukup unik.
Desainer kostum Glyn Dillon awalnya menemukan cardigan vintage bergambar serigala untuk karakter dalam film tersebut.
Namun menurut Ryan Gosling, motif itu terasa terlalu agresif untuk karakter seorang guru.
Dalam unggahan Instagram-nya, Dillon menjelaskan bagaimana Gosling kemudian mengusulkan penggantian motif serigala menjadi rubah.
“Ryan datang dengan ide yang tidak terduga. Saat tinggal di London, ia sering melihat rubah liar berkeliaran di kota,” tulis Dillon.
“Ada orang yang menganggap rubah sebagai hama, tetapi Ryan melihatnya berbeda. Ia merasa rubah punya kesan magis ketika muncul di malam hari. Karena itu, ia meminta agar motif serigala diganti menjadi rubah.”
Meski waktu produksi sangat sempit, perubahan tersebut akhirnya dilakukan, termasuk mengganti detail jejak kaki merah pada desain awal sweater.