MALEINSPIRE.id – Popularitas dirty latte kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta kopi di Indonesia setelah sebelumnya sempat diramaikan oleh tren kopi mont blanc.
Secara harfiah, nama menu ini memang memiliki arti “kopi kotor”.
Kendati demikian, istilah unik tersebut sama sekali tidak merujuk pada tingkat higienitas minumannya, melainkan pada keunikan teknik penyajian yang menghasilkan efek visual berantakan estetik dan sangat digemari untuk diunggah ke laman media sosial.
Meskipun baru naik daun di tanah air, segelas espresso susu ini sebenarnya memiliki rekam jejak sejarah yang cukup panjang.
Gatot, Barista Manager Common Grounds Terra Menteng, memaparkan bahwa berdasarkan beberapa literatur yang ditemukannya, akar pergerakan dirty latte berasal dari Jepang dan Thailand.
“Penjelasan yang lebih komprehensif sebenarnya datang dari Jepang, tepatnya dimulai sekitar tahun 2010-an di sebuah kedai kopi legendaris bernama Bare Pond,” ujarnya.
“Saat itu, ada pelanggan yang merasa kehadiran es batu membuat ice latte biasa menjadi terlalu encer. Akhirnya, ia mencoba menghilangkan komponen es tersebut dan langsung mencampur fresh espresso dengan susu dingin.”
Di sisi lain, Lead Operations BeanStar, Wichi Lee, menambahkan sudut pandang bahwa dirty latte juga sudah lama menjamur di belahan bumi bagian barat sebelum akhirnya masuk ke Indonesia.
Wichi turut menggarisbawahi letak keunikan visual dari minuman ini yang menjadi daya tarik utama bagi konsumen awam.
“Racikan ini sengaja tidak diaduk, melainkan cairan susu langsung dikombinasikan ke dalam cangkir.”
Hal itulah yang membuat lapisan warna dirty latte terlihat berantakan dan kontras dengan latte biasa yang langsung tercampur rata,” kata Wichi.
Menyelami Dua Aliran Resep dan Karakteristik Rasa Dirty Latte

Dalam perkembangannya di dunia barista, dirty latte ternyata terbagi ke dalam dua mazhab pembuatan yang berbeda di industri kopi global.
“Mazhab pertama menggunakan kombinasi fresh milk dan distilled milk, yaitu susu yang dibekukan lalu dicairkan kembali untuk diambil konsentrat murninya.”
“Sementara mazhab kedua cenderung menggunakan campuran susu yang telah diberi tambahan krim serta pemanis,” tutur Gatot.
Ketiadaan es batu menjadi kunci utama mengapa minuman ini begitu digemari.
Alih-alih menggunakan es, barista memanfaatkan susu yang benar-benar dingin sebagai basisnya.
Metode ini menjaga konsistensi rasa tetap pekat dari sesapan pertama hingga terakhir tanpa khawatir rasa kopi menjadi hambar (watery) akibat proses pencairan es batu.
Kombinasi apik dari tekstur yang creamy, gurih, pekatnya susu, serta pahitnya espresso yang turun secara alami menciptakan sensasi rasa berlapis yang memanjakan lidah.
Karakteristik rasanya yang cenderung mirip dengan hidangan penutup (dessert) membuat minuman ini sangat ramah di lidah, bahkan bagi para konsumen yang bukan peminum kopi berat (non-coffee heavy drinker).
Pada akhirnya, perpaduan antara keindahan visual yang fotogenik dan konsistensi cita rasa yang terjaga sukses mengukuhkan posisinya sebagai primadona baru di industri kopi modern tanah air.