MALEINSPIRE.id – Banyak orang mengira bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemecatan selalu dipicu oleh satu kesalahan di tempat kerja yang sangat fatal.
Padahal, realita di dunia profesional justru sebaliknya.
Menurut spesialis HR, Kate Underwood, keputusan pemecatan biasanya merupakan hasil akumulasi dari berbagai kesalahan di tempat kerja yang skalanya kecil, namun dilakukan terus-menerus hingga membuat atasan kehilangan kepercayaan dan kesabaran.
Underwood, yang mendirikan lembaga HR berbasis di Inggris, Kate Underwood HR and Training, menuturkan bahwa sebagian besar perusahaan sebenarnya masih bisa menoleransi kekhilafan yang tidak sengaja.
Namun, apa yang menjadi alarm bahaya terbesar bagi pemberi kerja adalah masalah penilaian yang buruk (poor judgement), ketidakjujuran, serta pengabaian standar profesional secara terus-menerus.
Kesalahan di Tempat Kerja yang Sering Diremehkan Karyawan
Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk dan kesalahan di tempat kerja yang sering kali dianggap sepele oleh karyawan, padahal bisa berujung pada surat pemecatan:
1. Berbohong dan Menutupi Kesalahan
Bagi dunia HR, ketidakjujuran adalah lampu merah yang paling sulit dimaafkan.
Underwood memaparkan bahwa mayoritas pemberi kerja sebenarnya tidak masalah untuk membantu karyawan memperbaiki kesalahan teknis.
“Namun, yang sangat sulit untuk dimaafkan adalah kebohongan. Begitu kepercayaan itu hilang, akan sangat sulit untuk membangunnya kembali,” tutur dia.
2. Mengirim Pesan Saat Sedang Emosi

Underwood memperingatkan karyawan untuk tidak mengirim pesan bernada emosional atau konfrontatif saat sedang marah, terutama lewat email atau platform pesan internal kantor.
Ia mengingatkan, jika pesan kita dimulai dengan kalimat “Dengan segala hormat…”, kemungkinan besar rasa hormat tersebut sebenarnya sudah hilang dari percakapan.
3. Menganggap Aturan Kantor Cuma “Saran Opsional”
Mengabaikan kebijakan perusahaan terkait penggunaan media sosial, kerahasiaan data, perlindungan data, atau aturan antikekerasan merupakan salah satu bentuk kesalahan di tempat kerja yang sangat fatal.
Underwood mengatakan, kebijakan-kebijakan tersebut dibuat bukan sebagai saran inspirasional yang boleh diabaikan, melainkan aturan hukum ketat yang wajib dipatuhi.
4. “Ghibah” atau Mengeluh di Media Sosial
Berbagi konten terkait pekerjaan di media sosial pribadi masih menjadi cara paling instan bagi karyawan untuk menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam masalah.
“Jika kita mengeluh atau menjelek-jelekkan bos kita secara daring, sementara rekan kerja secara harfiah ditandai (tagged) sedang berada di sebelah kita, hal itu biasanya tidak akan berakhir baik,” tambah Underwood.
5. Berlindung di Balik Kalimat “Cuma Bercanda”
Banyak perilaku tidak sopan atau bahkan perundungan yang coba disamarkan dengan dalih candaan.
Menurut Underwood, kalimat “ah, cuma bercanda kok” sering kali menjadi awal mula di mana situasi profesional di kantor mulai memburuk dengan sangat cepat dan berujung pada tindakan disipliner.
6. Menghilang Tanpa Kabar
Masalah ketepatan waktu dan komunikasi adalah poin krusial lainnya.
Atasan tentu memahami bahwa hidup ini dinamis dan tidak bisa diprediksi secara penuh—mulai dari jadwal transportasi umum yang berantakan hingga urusan yang mendadak.
Namun, menghilang begitu saja tanpa memberikan kabar atau penjelasan kepada siapa pun akan membuat tim dan atasan frustrasi dalam sekejap.
Performa Bagus Bukan Jaminan “Kebal Aturan”
Underwood menggarisbawahi performa kerja yang luar biasa tidak bisa menjadi alasan bagi seorang karyawan untuk berperilaku buruk.
Ia bercerita, dirinya kerap melihat orang-orang yang bertalenta terpaksa dikeluarkan dari perusahaan karena merasa keahlian mereka membuat mereka kebal dari aturan etika.
Menjadi karyawan berprestasi tidak akan pernah bisa menghapus dampak buruk dari sikap yang tidak profesional.
Di era modern di mana batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin bias, kita harus selalu ingat bahwa setiap tindakan—baik di dalam maupun di luar jam kerja—tetap memiliki konsekuensi.
Jangan pernah berpikir bahwa masa percobaan (probation) atau kultur kantor yang kasual membuat aturan tidak berlaku sepenuhnya. Ingat, pihak HR dan atasan selalu memperhatikan.