MALEINSPIRE.id – Lini masa media sosial X baru-baru ini ramai membahas fenomena mengenai bagaimana dorongan atau cerita motivasi yang yang justru membuat seseorang merasa tertekan.
Diskusi hangat ini bermula dari unggahan seorang warganet yang membagikan tangkapan layar status WhatsApp ibunya.
Status tersebut berisi kisah sukses anak tukang bangunan yang berhasil lulus S1 dan S2 di ITB lewat jalur fast track.
Bukannya bersemangat mengetahui cerita motivasi itu, pemilik akun yang kebetulan sedang berjuang menyelesaikan kuliah di semester ke-9 ini justru merasa sedih.
Ia merasa unggahan ibunya itu menyindir kondisinya saat ini, hingga membuatnya mempertanyakan harga dirinya.
Banyak warganet lain yang mengaku berada di situasi serupa, di mana nasihat baik dari orangtua atau lingkungan sekitar justru terasa seperti beban baru.
Mengapa Cerita Motivasi Jadi Tekanan bagi Seseorang?

Menanggapi fenomena ini, psikolog Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa cerita motivasi tidak selalu memberikan dampak positif bagi kita.
Menurutnya, emosi dan situasi seseorang saat menerima pesan tersebut sangat menentukan dampaknya.
“Cerita motivasi yang seharusnya menjadi pendorong positif, justru dalam beberapa kasus dapat berbalik arah dan membuat seseorang merasa down atau demotivasi,” ujar Danti.
Fenomena ketika cerita motivasi justru membuat orang tertekan ini biasanya muncul ketika pesan disampaikan tanpa memahami kondisi emosional si penerima, atau karena pesan tersebut sengaja dibungkus dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.
Danti pun memaparkan empat alasan utama mengapa cerita motivasi bisa berubah menjadi senjata makan tuan bagi kesehatan mental kita:
1. Menetapkan Tujuan yang Tidak Realistis
Kata-kata bijak sering kali mendorong kita untuk menetapkan target yang terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu singkat.
Ketika target tersebut mustahil dicapai, kegagalan yang terjadi justru kita artikan sebagai bukti ketidakmampuan diri kita sendiri. Hal inilah yang akhirnya membuat seseorang kehilangan semangat.
2. Terjebak dalam Perbandingan Sosial
Kisah sukses orang lain—baik itu teman, keluarga, atau figur publik—bisa memicu rasa minder jika dijadikan standar mutlak yang harus kita capai.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, fasilitas, dan titik start yang berbeda-beda.
Ketika sebuah motivasi jadi tekanan akibat dibanding-bandingkan, seluruh usaha yang sudah kita lakukan secara mandiri malah terasa tidak berarti.
3. Terlalu Fokus pada Hasil, Bukan Proses
Danti melanjutkan bahwa motivasi yang terlalu menekankan pencapaian eksternal, seperti pujian, gelar, atau prestasi, bisa membuat proses perjuangan terasa sebagai beban berat.
Begitu hasil akhirnya tidak sesuai harapan, seluruh energi mental kita bisa runtuh seketika.
4. Budaya Hustle yang Memicu Burnout
Dorongan untuk terus-menerus produktif tanpa henti membuat banyak dari kita mengabaikan waktu istirahat yang krusial bagi tubuh.
Kondisi ini lambat laun akan menyebabkan burnout, yaitu kelelahan fisik dan mental yang sangat parah.
Jika sudah berada di fase ini, motivasi sebesar apa pun tidak akan mempan dan justru memperburuk kondisi stres.
Melalui fenomena ini, kita diingatkan kembali bahwa setiap orang memiliki lini masanya sendiri dalam berjuang.
Menyebarkan semangat tentu baik, namun menyampaikannya dengan empati dan memahami situasi orang lain jauh lebih penting agar niat baik tersebut tidak berubah menjadi beban mental.