Sake Luar Angkasa ini Terjual Rp11 Miliar

sake luar angkasa

MALEINSPIRE.id – Sake luar angkasa Dassai kini menjadi salah satu eksperimen paling menarik yang lahir dari persimpangan antara tradisi Jepang dan teknologi antariksa modern.

Bukan sekadar minuman premium, sake luar angkasa ini menjadi simbol bagaimana industri pangan mulai melirik tata surya sebagai laboratorium masa depan.

Produsen sake asal Jepang, Dassai, berhasil menjual sebotol sake berukuran 100 mililiter dengan harga fantastis, yakni 110 juta yen atau sekitar Rp11 miliar.

Nilai tersebut bukan muncul karena usia minuman atau bahan langka, melainkan karena sebagian proses fermentasinya dilakukan di luar angkasa.

Di balik botol kecil itu, tersimpan proyek ambisius yang melibatkan teknologi penerbangan antariksa Jepang hingga eksperimen fermentasi di International Space Station (ISS).

Sake Luar Angkasa Berawal dari Ambisi

Proyek sake luar angkasa ini bermula dari kolaborasi antara Dassai dan Mitsubishi Heavy Industries melalui program bertajuk Dassai MOON yang diperkenalkan pada 2024.

Tujuannya terdengar seperti cerita fiksi ilmiah: menciptakan sake pertama yang dibuat di permukaan bulan.

Untuk mewujudkannya, kedua perusahaan bekerja sama mengembangkan perangkat fermentasi khusus yang mampu bekerja dalam kondisi gravitasi berbeda.

Pada Oktober 2025, bahan mentah sake bersama alat fermentasi tersebut dikirim ke ISS menggunakan roket H3 milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA).

Eksperimen dilakukan di modul laboratorium milik JAXA dengan simulasi gravitasi bulan.

Selama dua minggu, proses fermentasi berlangsung di orbit sebelum akhirnya menghasilkan sekitar 260 mililiter moromi atau mash sake dengan kadar alkohol mencapai 12 persen.

Hasil itu menjadi bukti awal bahwa fermentasi tetap dapat berlangsung secara stabil di lingkungan luar angkasa.

Fermentasi di ISS Membuka Jalan Baru bagi Industri Pangan

sake luar angkasa

Setelah proses di orbit selesai, mash hasil fermentasi dikembalikan ke Bumi dan tiba di kantor pusat Dassai pada 13 Maret 2026.

Perusahaan kemudian menyelesaikan tahap akhir produksi di Jepang sebelum membotolkannya pada 24 Maret 2026.

Dari seluruh hasil eksperimen, hanya tersedia sekitar 116 mililiter sake jadi.

Sebanyak 100 mililiter akhirnya dijual kepada seorang kolektor asal Jepang yang identitasnya dirahasiakan.

Nilai jual yang mencapai miliaran rupiah membuat sake tersebut langsung menjadi salah satu minuman paling mahal yang pernah diproduksi Jepang.

Namun bagi Dassai, proyek ini bukan semata tentang kemewahan. Perusahaan menyatakan hasil penjualan akan disumbangkan untuk mendukung program eksplorasi luar angkasa Jepang.

Simbol Perpaduan Tradisi dan Teknologi

Industri sake selama ini identik dengan proses tradisional yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, langkah Dassai membawa fermentasi ke luar angkasa terasa begitu kontras sekaligus revolusioner.

Alih-alih meninggalkan akar tradisionalnya, Dassai justru mencoba memperluas kemungkinan baru dalam produksi sake.

Proyek sake luar angkasa ini memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memahami ulang proses fermentasi yang selama ratusan tahun dilakukan di Bumi.

Dassai juga berencana melanjutkan penelitian bersama Tohoku University untuk menganalisis komponen kimia dari ampas sake hasil eksperimen tersebut.

Penelitian itu diharapkan mampu memberikan pemahaman baru mengenai perubahan biologis dan kimia selama fermentasi di lingkungan gravitasi rendah.