Kisah Robert Goddard, Sang Pionir Perjalanan Luar Angkasa yang Sempat Dicemooh

Robert Goddard

MALEINSPIRE.id – “Mimpi kemarin adalah harapan hari ini dan kenyataan hari esok.” Kalimat ini diucapkan oleh seorang remaja saat memberikan pidato perpisahan di SMA-nya di Massachusetts pada 1904, Robert Goddard.

Robert Goddard adalah sosok yang kelak mengukir namanya dalam sejarah peluncuran roket.

Ia dikenal sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan bahwa perjalanan ke luar angkasa bukanlah sekadar fiksi ilmiah.

Meskipun ia wafat sebelum manusia benar-benar menginjakkan kaki di ruang hampa, pengaruhnya tetap hidup dalam setiap desain roket modern, mulai dari sistem multistage hingga penggunaan bahan bakar cair yang menjadi standar industri saat ini.

Robert Goddard bukan sekadar pemimpi; ia adalah eksperimenter gigih yang mengubah spekulasi menjadi perhitungan fisika yang akurat.

Namun, pengakuan dunia terhadap si jenius dari Worcester ini membutuhkan waktu puluhan tahun untuk benar-benar matang.

Ketertarikan Robert Goddard pada Luar Angkasa

Lahir pada 1882, Robert Hutchings Goddard tumbuh di bawah pengaruh ayahnya yang merupakan seorang penemu produktif.

Ketertarikannya pada luar angkasa memuncak saat ia berusia 17 tahun, terinspirasi oleh karya H.G. Wells.

Namun, kontribusi paling krusial dalam sejarah antariksa dimulai ketika ia menyadari keterbatasan teknologi masanya.

Saat itu, roket hanya ditenagai oleh bahan bakar padat seperti bubuk mesiu yang telah digunakan selama berabad-abad.

Pada tahun 1908, Robert Goddard berteori bahwa hanya bahan bakar cair yang mampu menghasilkan daya dorong (thrust) yang cukup masif untuk membawa beban keluar dari atmosfer Bumi.

Meskipun temuannya revolusioner, media massa saat itu justru mengejeknya.

Sebuah editorial terkenal bahkan menyebut idenya tentang roket yang bisa mencapai bulan sebagai sesuatu yang “sangat mustahil”.

Menghadapi skeptisisme tersebut, Goddard memilih untuk bekerja secara rahasia dan mandiri.

Puncaknya terjadi pada 16 Maret 1926 di Auburn, Massachusetts, AS.

Robert Goddard berhasil meluncurkan “Nell”, roket pertama di dunia yang menggunakan kombinasi bensin dan oksigen cair.

Meski hanya terbang setinggi 12,5 meter selama 2,5 detik, momen ini menjadi tonggak sejarah yang setara dengan penerbangan pertama Wright Bersaudara di dunia penerbangan.

Warisan Ilmiah dan Pengakuan Pasca-Kematian

Selama Perang Dunia II, Goddard mencoba menawarkan risetnya kepada militer Amerika Serikat, namun establishment ilmiah saat itu tetap skeptis.

Ironisnya, para ilmuwan Nazi Jerman justru mengembangkan roket V-2 mereka secara independen dengan prinsip-prinsip yang telah diprediksi oleh Robert Goddard bertahun-tahun sebelumnya.

Goddard meninggal dunia pada 10 Agustus 1945 karena kanker tenggorokan, tepat sebelum fajar menyingsing.

Barulah pada tahun 1950-an, saat Amerika Serikat berlomba dengan Uni Soviet dalam ekspedisi ke luar angkasa, dunia menyadari bahwa eksperimen primitif Goddard adalah fondasi dari segala keberhasilan teknologi roket modern.

Sebagai bentuk penghormatan, NASA menamai pusat fasilitas mereka di Maryland sebagai Goddard Space Flight Center.

Kini, setiap kali roket berbahan bakar hidrogen dan oksigen cair meluncur—termasuk dalam misi Artemis yang membawa manusia kembali ke Bulan—jejak pemikiran Goddard selalu ada di sana.

Ia membuktikan bahwa dengan sains dan ketekunan, mimpi yang dianggap gila kemarin bisa menjadi kenyataan yang mengubah wajah peradaban hari ini.