Tren Konsumsi Minuman Manis Gen Z Menurun, Sinyal Penting Bagi Pengusaha

konsumsi minuman manis

MALEINSPIRE.id – Konsumsi minuman manis Gen Z saat ini tengah mengalami pergeseran yang cukup signifikan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat di kalangan anak muda.

Sebagai kelompok demografis terbesar di Indonesia, generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini memegang peranan krusial dalam roda ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mereka mencapai 74,93 juta jiwa atau sekitar 27,94 persen dari total penduduk.

Dengan daya beli yang diprediksi menyentuh angka 12 triliun dolar AS secara global pada tahun 2030, memahami perubahan perilaku mereka adalah kunci utama bagi keberlanjutan bisnis di masa depan.

Penurunan Frekuensi Konsumsi Minuman Manis pada Gen Z

konsumsi minuman manis

Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa rutinitas “ngidam” minuman manis mulai ditinggalkan.

Data yang dihimpun Jakpat pada periode Desember 2024-Desember 2025 mengungkapkan fakta menarik mengenai konsumsi minuman manis Gen Z.

Hanya tersisa 3 persen responden yang masih mengonsumsi minuman berpemanis lebih dari tiga kali sehari, angka yang merosot tajam dari 8 persen pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini juga terlihat pada kelompok konsumsi harian lainnya.

Sebanyak 11 persen responden mengaku masih minum manis 2-3 kali sehari, namun angka ini telah berkurang setengahnya dibanding tahun 2024 yang mencapai 22 persen.

Bahkan, kelompok yang mengonsumsi minuman manis satu kali sehari pun turun dari 23 persen menjadi 17 persen.

Menariknya, kini sekitar 16 persen dari mereka justru sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi menyentuh minuman tinggi gula dalam keseharian mereka.

Frekuensi Konsumsi Persentase (2025) Tren
> 3 kali sehari 3% Menurun drastis
2-3 kali sehari 11% Menurun
1 kali sehari 17% Menurun
3-4 kali seminggu 19% Stabil
1-2 kali seminggu 35% Mayoritas

Peluang Usaha Baru di Tengah Pergeseran Tren

Meskipun terdapat tren pengurangan konsumsi minuman manis, bukan berarti pasar minuman sepenuhnya redup.

Pelaku usaha perlu jeli melihat celah dalam pola konsumsi minuman manis Gen Z ini.

Berdasarkan survei yang sama, teh manis tetap menjadi pilihan utama bagi 65 persen responden karena faktor harga dan kemudahan akses, diikuti kopi manis sebanyak 56 persen untuk menemani aktivitas harian.

Kuncinya bagi pelaku UMKM pangan adalah adaptasi.

Mengingat 66 persen dari generasi ini telah memiliki kekuatan finansial mandiri, mereka tidak keberatan mengeluarkan uang untuk produk yang sejalan dengan nilai kesehatan mereka.

Menawarkan opsi less sugar, penggunaan pemanis alami, atau varian ukuran yang lebih kecil bisa menjadi strategi jitu agar bisnis tetap relevan.

Era minuman dengan kemanisan berlebih mungkin mulai memudar, namun ruang bagi minuman yang fungsional dan berkualitas justru semakin terbuka lebar.

Bagi pengusaha, ini adalah saat yang tepat untuk merumuskan ulang formula produk agar tetap menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z yang kian dinamis dan sadar kesehatan.