MALEINSPIRE.id – Pengorbanan manusia di Korea Selatan ternyata bukan sekadar isapan jempol atau kiasan dalam cerita rakyat, melainkan sebuah realitas sejarah yang didukung oleh bukti arkeologis yang kuat.
Selama berabad-abad, narasi mengenai pengorbanan manusia di Korea Selatan yang dijadikan tumbal untuk memperkokoh bangunan dianggap sebagai legenda belaka.
Namun, penemuan kerangka manusia di bawah tembok Istana Wolseong di Gyeongju telah mengubah perspektif para sejarawan dan arkeolog mengenai tradisi kelam di masa lalu.
Juru bicara Administrasi Warisan Budaya Seoul, Choi Moon-Jung, menyatakan bahwa temuan ini merupakan bukti arkeologi pertama yang mengonfirmasi kebenaran cerita rakyat tersebut.
Praktik ini diyakini dilakukan atas saran para ahli di masa kuno yang percaya bahwa nyawa manusia dapat menjamin keberhasilan dan ketahanan struktur bangunan besar.
Analisis Arkeologis Terhadap Praktik Pengorbanan Manusia di Korea

Berdasarkan penelitian pada situs Istana Wolseong, tradisi penguburan manusia sebagai pondasi ini diperkirakan berlangsung antara abad ke-5 dan ke-6.
Meskipun detail eksekusinya masih terus didalami, para ahli menemukan fakta menarik bahwa tidak ada tanda-tanda perlawanan pada kerangka yang ditemukan.
Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar para korban berada dalam kondisi tidak sadarkan diri atau sudah meninggal sebelum dikuburkan di bawah struktur tembok.
Tujuan utama dari praktik pengorbanan manusia di Korea Selatan pada masa itu adalah sebagai bentuk persembahan untuk menenangkan dewa.
Masyarakat kuno percaya bahwa dengan memberikan tumbal, struktur bangunan akan mendapatkan perlindungan spiritual sehingga menjadi lebih awet, kuat, dan terhindar dari bencana.
Eksistensi Tradisi Pengorbanan dalam Struktur Sosial
Selain untuk kepentingan konstruksi bangunan, pengorbanan manusia juga ditemukan dalam konteks pemakaman bangsawan.
Pada tahun 2015, arkeolog menemukan makam seorang wanita bangsawan berusia 1.500 tahun yang berisi sisa-sisa jenazah pria dan wanita di dalamnya.
Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa sosok pria dalam makam tersebut sengaja dikorbankan untuk mendampingi sang bangsawan dalam kematian.
Dalam hierarki sosial masa itu, individu yang dikorbankan dianggap memiliki tugas untuk tetap menjaga, melindungi, dan melayani tuannya di alam baka.
Serangkaian penemuan ini menegaskan bahwa praktik pengorbanan merupakan bagian dari kompleksitas sistem kepercayaan dan struktur sosial Korea di masa lampau.