Studi: Tingkat Kesehatan Mental Generasi Alpha Mencapai Titik Kritis

kesehatan mental generasi alpha

MALEINSPIRE.id – Isu mengenai kesehatan mental generasi Alpha kini tengah menjadi perhatian serius.

Beberapa waktu lalu, pemeriksaan kesehatan mental generasi Alpha yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung mengungkap data yang mengejutkan.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap 148.239 pelajar pada periode Agustus-Oktober 2025, tercatat sebanyak 71.433 siswa atau sekitar 48,19 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.

Fenomena ini mencakup berbagai spektrum gangguan, mulai dari kecemasan (ansietas) ringan hingga depresi berat.

Hal itu yang menunjukkan bahwa kerentanan emosional anak-anak di era modern telah mencapai level yang memerlukan tindakan segera.

Data dan Faktor Pemicu Kesehatan Mental Generasi Alpha

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa jenjang SMP/MTs merupakan kelompok yang paling terdampak, dengan angka prevalensi mencapai 49,09 persen.

Gejala yang paling dominan adalah ansietas ringan (76,46 persen), namun temuan mengenai adanya depresi berat pada siswa SD hingga SMA memberikan sinyal bahaya bagi para pendidik dan orangtua.

Tidak terkecuali pada Sekolah Luar Biasa (SLB), di mana hampir 48,51 persen siswa juga menunjukkan indikasi serupa.

Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, memberikan catatan kritis mengenai faktor-faktor yang memperburuk kesehatan mental Generasi Alpha.

Menurutnya, faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Dominasi Algoritma Media Sosial: Saat ini, nilai-nilai kehidupan anak banyak dibentuk oleh konten dunia maya yang menampilkan standar kesuksesan tidak realistis dan gaya hidup mewah.

  • Perasaan Insecurity yang Tinggi: Akses informasi yang terlalu luas tanpa filter yang kuat membuat anak mudah membandingkan diri dengan orang lain, sehingga memicu rasa rendah diri.

  • Erosi Peran Keluarga: Tanpa penanaman nilai yang kokoh dari rumah, peran orangtua dalam membentuk karakter anak perlahan tergantikan oleh paparan konten digital yang serba instan.

Membangun Sistem Pendukung di Rumah dan Sekolah

kesehatan mental generasi alpha

Persoalan kesehatan mental generasi Alpha tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak.

Diana menekankan bahwa pencegahan terbaik dimulai dari kepekaan orangtua di rumah.

Anak yang memiliki kesehatan mental yang baik biasanya mampu mengenali potensi diri, memiliki tujuan hidup yang jelas, dan mampu mengelola stres dengan produktif.

Jika orangtua menyadari adanya perubahan perilaku yang drastis, dukungan emosional atau bantuan profesional harus segera diberikan.

Di sisi lain, pemerintah dan institusi pendidikan didorong untuk menerapkan pendekatan School-Based Mental Health.

Dengan adanya deteksi dini dan pendampingan di lingkungan sekolah, diharapkan setiap pelajar—termasuk penyandang disabilitas—mendapatkan perlindungan emosional yang memadai.

Edukasi mengenai keterampilan berkeluarga juga menjadi kunci agar keluarga tetap menjadi benteng utama dalam menghadapi gempuran informasi di era digital.