Orang Baik Belum Tentu Memiliki Hubungan Pernikahan yang Harmonis, Kenapa?

hubungan pernikahan

MALEINSPIRE.id – Salah satu mitos terbesar yang sering beredar dalam dunia romansa adalah anggapan bahwa jika kedua belah pihak merupakan orang baik, maka hubungan pernikahan secara otomatis akan berjalan harmonis dan bahagia.

Namun, realitanya tidak selalu seindah itu. Terkadang, dua individu yang sangat luar biasa secara personal justru gagal menciptakan kemitraan yang memuaskan.

Perbedaan ekspektasi ini sering kali sulit dipahami, terutama dalam sistem pernikahan yang dijodohkan (arranged marriage).

Karakter Pribadi vs Keterampilan dalam Hubungan Pernikahan

Menurut Harshada Desai, konselor kesehatan mental, menjadi orang yang baik dan menjadi pasangan yang baik sebenarnya menuntut kumpulan keahlian yang jauh berbeda.

Desai menjelaskan bahwa sifat-sifat seperti kebaikan, kejujuran, dan kemurahan hati adalah bagian dari sifat karakter individu.

Sementara itu, aspek-aspek seperti tingkat kecocokan, kemampuan komunikasi, dan penyelarasan emosional merupakan keterampilan relasional yang harus terus dilatih dalam hubungan pernikahan.

Sebuah ikatan rumah tangga bisa saja diisi oleh dua orang baik yang berniat tulus, namun tetap tidak sejalan dalam cara memproses konflik, mengekspresikan perhatian, atau memenuhi kebutuhan koneksi satu sama lain.

Mengapa Dua Orang Baik Bisa Gagal sebagai Pasangan?

Desai membagikan tiga alasan utama mengapa kecocokan antar-individu yang baik sering kali meleset:

1. Terlalu Menghindari Gesekan Demi Harmonisasi Semu

Desai menyoroti bahwa orang-orang yang menganggap diri mereka baik atau tidak suka berkonfrontasi terkadang sengaja memendam kekesalan demi menjaga kedamaian sesaat.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan-kebutuhan yang tidak pernah diucapkan ini menumpuk dan berubah menjadi jarak emosional yang lebar.

Pada akhirnya, bukan pertengkaran besar yang merusak hubungan pernikahan, melainkan absennya diskusi-diskusi jujur yang sangat diperlukan untuk mendewasakan hubungan.

2. Niat Baik yang Terjebak dalam Perbedaan Bahasa Cinta

Banyak pasangan yang sama-sama berkarakter mulia, namun terjebak karena memiliki bahasa emosional yang bertolak belakang.

Desai memberikan contoh kasus nyata di mana salah satu pasangan mengidentifikasi cinta melalui tindakan nyata (acts of service), sementara pasangan lainnya sangat membutuhkan penegasan verbal (words of affirmation).

“Tidak ada pihak yang sengaja menahan diri—mereka hanya fasih dalam bahasa emosional yang berbeda, dan bertahun-tahun berlalu sebelum mereka menyadarinya,” tutur Harshada.

Ketika salah satu pihak sibuk mengelola keuangan dan memperbaiki rumah karena yakin itulah cara menunjukkan cinta, pasangannya mungkin justru sedang menanti ucapan “Aku bangga padamu”.

Jika sebuah gestur tidak dikenali sebagai bentuk kasih sayang oleh pihak penerima, gestur tersebut tidak akan terasa bermakna dan perlahan memicu kekecewaan yang tersembunyi.

3. “Aturan” dari Keluarga Asal

Dua orang yang baik bisa membawa aturan tidak tertulis yang sangat berbeda mengenai konsep ideal sebuah rumah tangga, yang mereka warisi dari pernikahan orangtua masing-masing.

Satu pihak mungkin tumbuh di keluarga yang menyelesaikan masalah dengan adu argumen secara terbuka namun selesai dalam satu jam.

Sementara pasangannya tumbuh di rumah yang mengelola konflik lewat aksi diam demi menjaga harmoni.

Harshada memaparkan bahwa ketika kedua orang dengan latar belakang ini bersatu dalam hubungan pernikahan, kesalahpahaman besar sangat rentan terjadi.

“Salah satu pihak akan membaca keheningan sebagai tanda bahwa hubungan mereka baik-baik saja, sedangkan pihak lainnya justru mengartikan keheningan tersebut sebagai indikasi bahwa ada sesuatu yang sedang rusak parah,” ujarnya.