MALEINSPIRE.id – Pulau Jeju di Korea Selatan tidak hanya menawarkan pesona pantai dan keindahan panorama alamnya.
Di balik cantiknya bentang alam pulau vulkanik ini, terdapat bentangan batu hitam yang mengelilingi lahan-lahan pertanian warga—struktur pagar batu yang dikenal luas sebagai Jeju Batdam.
Asal-usul dan Fungsi Utama Jeju Batdam di Pulau Jeju
Terbentuk dari aktivitas gunung api purba, Pulau Jeju kaya akan batuan vulkanik.
Melansir Visit Jeju, masyarakat setempat memanfaatkan kelimpahan batu tersebut untuk membangun benteng pelindung lahan.
Jika seluruh susunan batu ini dibentangkan dalam satu garis lurus, panjang Jeju Batdam diperkirakan mencapai lebih dari 22.000 kilometer.
Fungsi utamanya sangat krusial bagi kehidupan petani:
- Menahan Terpaan Angin Kencang: Susunan batunya sengaja tidak dirapatkan sepenuhnya, melainkan diberi celah-celah kecil. Celah ini memungkinkan angin laut yang kencang lewat tanpa merobohkan struktur dinding atau merusak tanaman di baliknya.
- Mencegah Erosi Tanah: Dinding batu membantu menjaga humus dan lapisan tanah subur agar tidak terbawa angin.
- Pembatas Lahan dan Ternak: Menjadi penanda batas kepemilikan tanah sekaligus mencegah hewan ternak masuk ke area bercocok tanam.
Dari kejauhan, susunan batu hitam yang berkelok-kelok mengikuti kontur bukit dan ladang di Pulau Jeju ini tampak seperti naga raksasa yang sedang merayap. Tak heran jika keberadaannya mendapatkan julukan “Tembok Naga Hitam”.
Warisan Dunia Pertanian yang Bertahan Lebih dari 1.000 Tahun
Keberadaan Jeju Batdam menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu mengubah tantangan alam menjadi solusi berkelanjutan.
Sistem pagar batu ini terbukti mampu bertahan dan menjaga produktivitas pertanian Jeju selama lebih dari 1.000 tahun.
Tak hanya itu, celah-celah pada susunan batu vulkanik ini juga menjadi habitat mikro bagi beragam keanekaragaman hayati lokal.
Atas nilai sejarah, budaya, dan keberlanjutan lingkungan tersebut, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) secara resmi menetapkan Jeju Batdam sebagai Globally Important Agricultural Heritage System (GIAHS) pada 2014.