Rahasia Panjang Umur Centenarian: Faktor Genetik Memegang Peranan Kunci

panjang umur

MALEINSPIRE.id – Kisah para centenarian—sebutan bagi orang panjang umur yang mampu hidup hingga usia 100 tahun atau lebih—sering kali diwarnai kebiasaan yang bertolak belakang dengan panduan medis.

Sebagian dari mereka tetap merokok, gemar mengonsumsi alkohol, hingga rutin menikmati es krim dan soda setiap hari.

Fenomena unik ini menjadi latar belakang temuan riset dari Weizmann Institute of Science di Israel yang mengungkapkan faktor genetik panjang umur berkontribusi hingga 50 persen, seimbang dengan peran kebiasaan dan faktor lingkungan.

Seberapa Besar Pengaruh Faktor Genetik Panjang Umur?

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science tersebut sekaligus mengoreksi pandangan lama pada riset 2018 yang sempat menyebut kontribusi genetik hanya sekitar 7 hingga 20 persen.

Para peneliti menjelaskan bahwa angka kontribusi genetik terlihat lebih besar setelah tim mengombinasikan berbagai himpunan data dan model matematika untuk menyaring kasus kematian akibat kecelakaan atau penyakit menular.

Keduanya adalah faktor eksternal kematian yang sangat mendominasi pada abad-abad sebelumnya saat angka harapan hidup masih di bawah 50 tahun.

Pengaruh genetik ini juga terbukti kian dominan seiring bertambahnya usia seseorang.

Dokter geriatri dari Boston University Medical Center, Thomas Perls, memaparkan peluang seseorang untuk bertahan hingga pertengahan usia 80 tahun memang masih ditentukan oleh 75 persen faktor lingkungan serta pola hidup harian.

“Sangat penting untuk membedakan antara apa yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai usia awal 80-an, dibandingkan dengan mencapai usia sekitar 100 tahun, atau bahkan usia yang lebih tua seperti 105 hingga 110 tahun,” ujar Perls.

Namun, ketika seseorang memasuki tahap penuaan ekstrem, tingkat keterwarisan gen naik drastis hingga 62 persen untuk usia 100 tahun, dan mendekati 80 persen bagi mereka yang menembus usia 105 hingga 110 tahun.

Peran Gen Anti-Penuaan dan Pentingnya Gaya Hidup Sehat

Besarnya kontribusi faktor genetik panjang umur pada lansia berusia ekstrem tercermin pula dalam studi Nir Barzilai, Direktur Institute for Aging Research di Albert Einstein College of Medicine.

Dalam penelitiannya terhadap 477 orang berusia 96 hingga 109 tahun, ia menemukan bahwa kelompok centenarian ini memiliki riwayat perilaku yang justru kurang sehat dibandingkan kelompok kontrol, seperti merokok, mengalami kelebihan berat badan, dan jarang berolahraga.

“Jadi secara kelompok, mereka sama sekali tidak berperilaku hidup sehat dengan benar,” tutur Nir Barzilai.

Barzilai mengatakan bahwa ketahanan luar biasa tersebut berasal dari kepemilikan gen anti-penuaan langka.

Gen ini bekerja menekan hormon pemicu pertumbuhan berlebih dan melindungi tubuh dari serangan penyakit menahun seperti jantung, Alzheimer, dan kanker—mekanisme alami yang fungsinya mirip dengan kerja obat modern seperti metformin dan penghambat GLP-1.

Kendati demikian, keberadaan faktor genetik panjang umur pada segelintir orang beruntung ini bukan berarti mengabaikan pentingnya menjaga kesehatan.

Biostatistikus Boston University, Paola Sebastiani, mengingatkan bahwa meski angka harapan hidup rata-rata meningkat drastis dalam seabad terakhir, proporsi orang yang mampu mencapai usia 100 tahun tetaplah sangat kecil.

Bagi masyarakat luas, menerapkan gaya hidup sehat dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan tidur yang cukup tetap menjadi opsi paling rasional untuk memelihara kualitas hidup hingga usia tua.