Kaitan Antara Memiliki Tato dan Risiko Kanker, Perlu Diwaspadai

memiliki tato

MALEINSPIRE.id – Seni merajah tubuh atau memiliki tato kini semakin lazim dijumpai di masyarakat.

Data dari Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa sekitar 32 persen orang dewasa di Amerika Serikat telah memiliki tato setidaknya satu.

Namun, seiring dengan popularitasnya, muncul rangkaian studi ilmiah yang memberikan peringatan mengenai potensi risiko kesehatan jangka panjang, khususnya terkait penyakit kanker.

Temuan Riset Mengenai Limfoma dan Kanker Kulit

Sejumlah studi terbaru mengungkapkan data yang cukup mengejutkan bagi para pencinta seni tubuh.

Dilansir National Geographic, studi yang dimuat dalam jurnal The Lancet (2024) menemukan bahwa orang yang memiliki tato berisiko 21 persen lebih tinggi terkena limfoma, yakni kanker yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Temuan serupa juga muncul dari Denmark pada awal 2025, di mana individu bertato dilaporkan mengalami peningkatan risiko kanker kulit sebesar 62 persen.

Bahkan, studi tersebut mencatat bahwa mereka yang memiliki tato berukuran besar (lebih besar dari telapak tangan) memiliki risiko limfoma hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak bertato.

Bagaimana Tinta Tato Memengaruhi Tubuh?

memiliki tato

Para ahli menjelaskan bahwa tinta tato tidak sekadar menetap di permukaan kulit.

Saat tinta disuntikkan jauh ke dalam lapisan kulit, partikel mikroskopisnya dapat berpindah melalui sistem limfatik dan mengendap di kelenjar getah bening dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun.

Tubuh manusia mengenali tinta tersebut sebagai benda asing dan memicu reaksi sistem kekebalan secara terus-menerus.

Proses ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan stres oksidatif yang mampu merusak jaringan tubuh serta memicu pertumbuhan sel yang tidak normal.

Selain itu, banyak tinta tato yang mengandung zat berbahaya, seperti:

  • Logam Berat: Timbal, kadmium, dan merkuri yang bersifat toksik bagi tubuh.

  • Hidrokarbon Aromatik Polisiklik: Umumnya ditemukan pada tinta hitam dan terkait dengan risiko kanker.

  • Pewarna Azo: Ditemukan pada tinta merah yang dapat terurai menjadi senyawa karsinogenik saat terpapar sinar UV.

Mengapa Penghapusan Tato Bukanlah Solusi?

Banyak orang beranggapan bahwa menghapus tato dengan laser dapat menghilangkan risiko kesehatan. Namun, prosedur laser justru berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Sinar laser memecah partikel pigmen tinta menjadi fragmen yang lebih kecil, yang justru mempercepat migrasi senyawa karsinogenik menuju kelenjar getah bening.

Studi bahkan menunjukkan bahwa orang yang melakukan penghapusan tato dengan laser memiliki risiko limfoma dua setengah kali lipat lebih tinggi.

Langkah Proteksi dan Kewaspadaan

Meskipun bukti-bukti ini menunjukkan adanya korelasi, para ilmuwan menekankan bahwa studi lebih lanjut masih diperlukan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti.

Beberapa studi lain bahkan menemukan hasil yang kontradiktif, seperti penurunan risiko melanoma pada pemilik tato besar tertentu.

Bagi kamu yang sudah memiliki tato atau berencana membuatnya, berikut adalah beberapa langkah bijak yang direkomendasikan para ahli:

  • Gunakan Tabir Surya: Selalu lindungi area bertato dari paparan sinar matahari dengan sunscreen minimal SPF 30 atau menutupinya dengan pakaian.

  • Pemeriksaan Rutin: Lakukan pemeriksaan kulit secara berkala ke dokter spesialis kulit untuk memantau adanya pertumbuhan yang tidak biasa pada tato.

  • Waspadai Gejala Fisik: Segera konsultasikan ke dokter jika Anda menemukan benjolan yang tidak biasa atau pembengkakan kelenjar getah bening.

Memahami risiko bukan berarti harus panik, melainkan menjadi konsumen yang lebih cerdas dan proaktif terhadap kesehatan jangka panjang.