MALEINSPIRE.id – Menjaga gaya hidup aktif ternyata tidak hanya berlaku bagi tubuh, tetapi juga sangat krusial bagi pikiran kita dan mencegah penyakit Alzheimer.
Studi terbaru menemukan bahwa keterlibatan dalam berbagai aktivitas yang “menstimulasi intelektual” sepanjang hayat —seperti membaca, menulis, dan mempelajari bahasa asing— berkaitan erat dengan penurunan risiko Alzheimer dan pelambatan penurunan kognitif.
Dampak Nyata Pembelajaran Seumur Hidup
Hasil studi yang diterbitkan dalam Neurology, jurnal medis dari American Academy of Neurology, menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kesehatan otak individu berdasarkan tingkat aktivitas mental mereka:
-
Individu dengan tingkat pembelajaran sepanjang hayat tertinggi mengembangkan penyakit Alzheimer lima tahun lebih lambat dibandingkan mereka yang memiliki tingkat pembelajaran terendah.
-
Gangguan kognitif ringan muncul tujuh tahun lebih lambat pada kelompok dengan stimulasi mental tinggi.
-
Subjek dalam 10 persen teratas dari pengayaan kognitif seumur hidup memiliki risiko 38 persen lebih rendah terkena Alzheimer.
-
Risiko pengembangan gangguan kognitif ringan menurun sebesar 36 persen pada kelompok dengan pengayaan tertinggi dibandingkan kelompok terendah.
Studi ini melibatkan 1.939 partisipan dengan usia rata-rata 80 tahun yang pada awal studi tidak mengidap demensia.
Stimulasi Mental di Berbagai Tahap Kehidupan

Para peneliti memetakan aktivitas partisipan dalam tiga fase kehidupan untuk mengukur dampak stimulasi mental tersebut:
-
Masa Kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun): Fokus pada frekuensi dibacakan buku, akses terhadap surat kabar dan atlas di rumah, serta pembelajaran bahasa asing selama lebih dari lima tahun.
-
Masa Dewasa/Paruh Baya: Mempertimbangkan kepemilikan kartu perpustakaan, langganan majalah, penggunaan kamus, serta frekuensi mengunjungi museum.
-
Masa Tua (rata-rata usia 80 tahun): Mengukur waktu yang dihabiskan untuk membaca, menulis, dan bermain permainan yang mengasah otak.
Secara statistik, mereka yang memiliki tingkat pengayaan tertinggi mengembangkan Alzheimer pada usia rata-rata 94 tahun, berbanding terbalik dengan usia 88 tahun pada kelompok terendah.
Sementara itu, gangguan kognitif ringan rata-rata muncul pada usia 85 tahun bagi kelompok aktif, dibandingkan usia 78 tahun bagi mereka yang kurang melakukan stimulasi mental.
Pentingnya Lingkungan yang Memperkaya Intelektual
Dr Andrea Zammit dari Rush University Medical Center, Chicago, AS menekankan bahwa kesehatan kognitif di masa tua sangat dipengaruhi oleh paparan seumur hidup terhadap lingkungan yang menstimulasi pikiran.
Meskipun studi ini menunjukkan adanya asosiasi dan bukan bukti sebab-akibat langsung, hasilnya memberikan harapan besar bagi inisiatif kesehatan publik.
Investasi publik dalam memperluas akses ke perpustakaan serta program pendidikan usia dini yang dirancang untuk memicu cinta belajar seumur hidup diyakini dapat membantu mengurangi insiden demensia di masyarakat.
Dengan konsisten menjaga pikiran tetap aktif, kita berpeluang besar untuk menikmati masa tua dengan kualitas kognitif yang lebih baik.