MALEINSPIRE.id – Badai masalah kembali menerpa Manchester United menyusul kekalahan telak 1-4 dari Como beberapa waktu lalu.
Kepala Koresponden Sky Sports, Kaveh Solhekol, melontarkan kritik tajam terhadap kemunduran struktur manajemen Manchester United terpuruk yang dinilai sebagai puncak dari akumulasi instabilitas serta ketegangan internal selama lebih dari dua dekade.
Klub berjuluk Setan Merah ini kini dianggap telah kehilangan identitas besarnya hingga tidak lagi ditakuti oleh para pesaing di liga.
Situasi di atas lapangan kian memprihatinkan akibat suara frustrasi yang mulai disuarakan oleh para pemain utama seperti Bruno Fernandes dan Lisandro Martinez.
Frustrasi Pemain Manchester United dan Akar Masalah Kepemilikan
Langkah Bruno Fernandes dan Lisandro Martinez berbicara terbuka mengenai kondisi ruang ganti dinilai Kaveh Solhekol sebagai bentuk kejujuran atas tekanan luar biasa yang mereka hadapi.
Melalui laporan Sky Sports, Solhekol mengungkapkan bahwa para pemain bintang tersebut sedang menjalankan peran penting bagi pendukung Manchester United dengan memberi mereka sedikit gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar klub.
Di balik kemerosotan prestasi di lapangan, akar kehancuran finansial klub berpusat pada masalah kepemilikan.
Pengambilalihan oleh keluarga Glazer telah membebani klub dengan utang menumpuk lebih dari dua miliar poundsterling atau setara Rp41,2 triliun, sementara klub-klub rival terus menggelontorkan dana segar.
Dampak dari manajemen Manchester United terpuruk ini semakin nyata dengan adanya pemangkasan karyawan hingga 40 persen serta kenaikan harga tiket musiman yang kian menjauhkan basis pendukung setia dari klub kebanggaan mereka.
Warisan Kelam dan Suramnya Posisi Finansial Klub
Banyak pihak meyakini bahwa kehadiran kembali figur legendaris seperti Sir Alex Ferguson sekali pun tidak akan mampu menyelamatkan kekacauan di tubuh klub saat ini.
Solhekol bahkan meyakini Ferguson secara tidak langsung turut melapangkan jalan bagi keluarga Glazer untuk menguasai saham mayoritas klub pada 21 tahun silam akibat perselisihan kepemilikan kuda Rock of Gibraltar di masa lalu.
Kondisi finansial Setan Merah kini sudah merosot drastis hingga terancam keluar dari daftar sepuluh besar klub terkaya di dunia.
Tanpa adanya pembenahan serius pada struktur atas, manajemen Manchester United terpuruk diprediksi akan terus menjerumuskan klub ini bersaing di papan bawah klasemen.
Bahasa Tubuh Michael Carrick dan Masa Depan Tim
Situasi internal yang karut-marut turut memengaruhi kondisi di pinggir lapangan.
Gerak-gerik pelatih Michael Carrick dinilai tampak demoralisasi dan kehilangan gairah kepemimpinan yang berapi-api.
“Saya khawatir dengan Carrick dan bahasa tubuhnya karena saya tidak melihat banyak perlawanan di dalam dirinya,” ungkap Solhekol saat menyoroti performa sang manajer.
Hubungan internal yang merenggang akibat bursa transfer musim panas membuat publik menilai bahwa tidak akan mengejutkan jika Carrick memilih mundur dalam waktu dekat demi menyelamatkan kariernya.