Apa yang Membuat Timnas Italia Gagal Menuju Piala Dunia 2026 untuk Ketiga Kalinya?

Timnas Italia

MALEINSPIRE.id – Kegagalan Timnas Italia untuk kembali ke panggung Piala Dunia di Amerika Utara tahun ini menjadi pukulan telak.

Absennya Timnas Italia ke Piala Dunia untuk kali ketiga memastikan mereka kehilangan kesempatan penebusan atas memori kelam penalti Roberto Baggio di final 1994.

Sang juara dunia empat kali ini dipastikan absen setelah menderita kekalahan dramatis dalam adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina, tim yang menempati peringkat 66 dunia, pada babak playoff kualifikasi.

Hasil memilukan ini mencatatkan sejarah kelam di mana Italia harus absen dalam tiga turnamen Piala Dunia berturut-turut, setelah sebelumnya tersingkir oleh Swedia pada 2018 dan Makedonia Utara pada 2022.

Krisis Talenta dan Dampak Kegagalan Timnas Italia

Timnas Italia

Salah satu faktor fundamental yang melatarbelakangi kegagalan Timnas Italia adalah hilangnya generasi pemain ikonik yang menjadi tulang punggung tim.

Dibandingkan dengan skuad juara dunia 2006 yang bertabur bintang seperti Alessandro Del Piero, Francesco Totti, dan Andrea Pirlo, kualitas individu dalam skuad Azzurri saat ini dinilai telah menurun drastis selama bertahun-tahun.

Saat ini, pemain termahal di skuad hanyalah gelandang Sandro Tonali, sementara status pemain kelas dunia hanya disematkan kepada penjaga gawang Gianluigi Donnarumma.

Untuk urusan mencetak gol, Italia kini bergantung pada penyerang kelahiran Argentina, Mateo Retegui, dan Moise Kean, yang belum mampu menyamai level para legenda pendahulunya.

Serie A: Dari Kiblat Dunia Menjadi Destinasi Pensiun

Kondisi liga domestik turut memberikan kontribusi signifikan terhadap nasib Timnas Italia di level internasional.

Serie A, yang pada era 1980-an dan 1990-an menjadi rumah bagi pemain terbaik dunia seperti Diego Maradona dan Marco van Basten, kini telah bergeser menjadi tujuan bagi para pemain veteran untuk menutup karier mereka.

Kehadiran pemain berusia senja seperti Luka Modric di Milan dan Jamie Vardy di Cremonese menunjukkan bahwa liga ini mulai kehilangan daya tarik bagi pemain bintang di masa primanya.

Tanpa kompetisi internal yang kompetitif secara global, level permainan tim nasional pun ikut merosot, ditambah lagi dengan hilangnya dominasi klub penyokong utama seperti Juventus dan AC Milan di skuad nasional.

Ancaman dari Cabang Olahraga Lain dan Masalah Infrastruktur

Timnas Italia

Di luar lapangan hijau, pergeseran minat masyarakat juga mulai mengancam dominasi sepak bola di Italia.

Terinspirasi oleh pencapaian gemilang Jannik Sinner, tenis mulai menggerus status sepak bola sebagai olahraga terpopuler; tercatat pada tahun 2025, jumlah pemirsa tenis dan padel telah mencapai 19,9 juta orang, mendekati 21,6 juta penggemar sepak bola.

Kesuksesan Italia di Formula 1 melalui Kimi Antonelli serta performa rekor di Olimpiade Musim Dingin Milan Cortina semakin mengalihkan perhatian talenta muda dari sepak bola.

Pelatih Gennaro Gattuso pun mengakui bahwa sejarah sepak bola Italia saat ini sedang berada dalam masa perjuangan yang sangat berat.

Masalah ini semakin diperparah dengan infrastruktur stadion yang tertinggal jauh dari liga-liga besar Eropa lainnya.

Hingga saat ini, hanya Juventus yang memiliki dan mengoperasikan stadion modern sendiri, sementara klub besar seperti AC Milan, Inter, dan Roma masih terjebak dalam proses perizinan dan perencanaan pembangunan yang berlarut-larut.

Kurangnya kepemilikan stadion membuat klub-klub Italia tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk bersaing secara finansial dengan rival dari luar negeri, yang pada akhirnya memperlemah daya saing Serie A dan memperpanjang rantai keterpurukan tim nasional di kancah global.