MALEINSPIRE.id – Jika berwisata atau jalan-jalan ke Kota Yogyakarta, rasanya kurang lengkap tanpa mencicipi berbagai kelezatan kulinernya seperti gudeg, bakpia, atau jadah tempe. Namun, jangan melupakan sanggabuwana.
Keraton Yogyakarta menyimpan sebuah kudapan bangsawan berkelas yang penuh dengan nilai sejarah dan filosofi mendalam, yaitu kue sanggabuwana atau yang sering juga diucapkan sebagai songgo buwono.
Kudapan bergaya Eropa versi tradisional ini bahkan kerap dijuluki sebagai “burger-nya para bangsawan Jawa”.
Sejarah Akulturasi dan Asal-Usul Sanggabuwana
Kuliner istimewa ini tercipta dari perjumpaan budaya antara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan bangsa Eropa.
Cikal bakal hidangan ini bermula pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang menyukai sajian bergizi, sehat, dan variatif, yang kemudian perkembangannya mencapai puncak pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Kala itu, Keraton sering menggelar perjamuan resmi bersama para pejabat serta tamu kehormatan dari Belanda.
Untuk menghormati tamu mancanegara tanpa kehilangan identitas lokal, R.W. Hendrobudjono selaku pemimpin Pawon Prabeya (dapur khusus Keraton Yogyakarta) meracik sebuah hidangan yang memadukan teknik pembuatan choux pastry atau kue sus ala Eropa dengan cita rasa rempah Nusantara.
Dahulu, makanan ini hanya bisa dinikmati oleh Sultan, keluarga kerajaan, serta kaum priyayi saja sebagai kudapan sore atau hidangan pembuka (appetizer).
Komposisi dan Makna Filosofis di Baliknya
Secara kasat mata, sanggabuwana menyerupai kue sus raksasa atau burger bersusun dengan struktur serta makna filosofis yang sangat kaya.
Secara harfiah, namanya berasal dari bahasa Jawa, di mana sangga (atau songgo) berarti menopang atau menyangga, dan buwono berarti bumi atau alam semesta.
Sehingga, kudapan ini bermakna sebagai “penyangga bumi”.
Setiap lapisan pada hidangan ini memiliki simbolisme tersendiri:
- Kue sus bulat: Melambangkan “bumi” atau buwono yang menjadi dasar kehidupan.
- Isian ragout daging dan sayuran: Campuran daging cincang, wortel, dan buncis berbalut rempah yang menggambarkan kesuburan tanah serta kelimpahan rezeki.
- Daun selada dan telur rebus: Melambangkan dedaunan pelindung serta simbol kehidupan dan keturunan.
- Saus mustard Jawa dan acar: Siraman vla gurih asam manis dengan sentuhan mustard serta acar mentimun yang menyimbolkan payung penopang keseimbangan alam.
Harmoni Rasa dan Pelestarian Warisan Kuliner Keraton
Menikmati sanggabuwana memberikan pengalaman tekstur dan cita rasa yang sangat kompleks.
Kita bisa merasakan kelembutan kue sus dan telur yang berpadu sempurna dengan kerenyahan selada segar serta gurihnya isian ragout.
Perpaduan rempah khas Jawa, asam segar dari acar, serta saus mustard yang khas menciptakan harmoni rasa yang begitu unik di lidah.
Meski dulunya sangat eksklusif dan hanya tersaji di lingkungan istana, kini sanggabuwana telah bertransformasi menjadi warisan budaya yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Kita bisa menjumpainya di berbagai restoran bertema tradisional di Yogyakarta, pasar Ramadan, hingga pameran kuliner nusantara.
Kudapan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bukti nyata kecerdasan diplomasi kuliner masa lalu dalam meramu akulturasi dua kebudayaan secara elegan.