MALEINSPIRE.id – Ketika seseorang melukai, mengecewakan, atau mengkhianati kepercayaan kita, memutus hubungan (cutting off) dan membatasi akses mereka sering kali terasa sebagai cara tercepat untuk melindungi kedamaian batin.
Namun, apakah memutus hubungan selalu menjadi cara terbaik untuk menetapkan batas diri (boundary)?
Devina Kaur, seorang edukator kesehatan mental, coach NLP tersertifikasi, serta praktisi meditasi dan yoga, membagikan pandangannya.
Ia mengatakan bahwa menetapkan batas diri sebenarnya adalah upaya mengomunikasikan secara jelas apa yang bisa dan tidak bisa kita terima dalam suatu hubungan.
Memahami perbedaan memberi jeda dan memutus hubungan sangat penting agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak.
Menjaga Jarak vs Memutus Hubungan secara Total
Banyak orang menganggap menjaga jarak dan memutus hubungan sebagai dua hal yang sama, padahal keduanya memiliki fondasi yang berbeda.
Devina memaparkan bahwa saat kita memilih menjaga jarak (distancing), kita sebenarnya hanya melangkah mundur sejenak untuk meredakan ketegangan agar konflik tidak makin memanas.
Hubungan atau komunikasi masih mungkin berlanjut setelah situasi lebih tenang. Sebaliknya, memutus hubungan berarti mengakhiri hubungan dan menghentikan seluruh bentuk komunikasi secara permanen.
Ia menambahkan bahwa batasan diri (boundary) bertujuan mendefinisikan ruang lingkup agar hubungan menjadi lebih baik, sementara memutus kontak pada dasarnya adalah mengakhiri koneksi itu sendiri.
Kapan Waktunya Kita Harus Benar-Benar Berhenti?
Menentukan apakah suatu masalah perlu dibicarakan baik-baik atau langsung diakhiri memang bukan hal yang mudah.
Menurut Devina, keputusan tersebut sangat bergantung pada dinamika masalah yang terjadi dan iktikad baik dari kedua belah pihak.
Jika konflik dipicu oleh kesalahpahaman biasa, obrolan yang jujur umumnya bisa menjadi solusi.
Namun, komunikasi hanya akan berhasil jika kedua pihak sama-sama mau mendengarkan.
Jika hanya kamu yang terus berusaha memperbaiki keadaan sementara pasangan tetap mengulangi kesalahan yang sama, maka hubungan tersebut patut dipertanyakan kembali.
Indikator utama yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana perasaan kita selama menjalani hubungan tersebut.
Jika kamu berulang kali merasa tidak dihargai dan batasanmu terus dilanggar—misalnya pasangan sering melontarkan lelucon yang menyindir caramu berpakaian meski sudah dilarang—itu tanda jelas bahwa batasanmu tidak dihormati.
Devina menyarankan agar kita melihat pola perilaku secara keseluruhan, bukan hanya menilai dari satu hari yang buruk atau satu pertengkaran kecil.
Setiap orang bisa membuat kesalahan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka setelahnya—apakah ada rasa empati dan usaha nyata untuk berubah atau tidak.
Dengan memahami perbedaan memberi jeda dan memutus hubungan, kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan demi menjaga kesehatan emosional dan kedamaian diri kita sendiri.