MALEINSPIRE.id – Dunia pengoleksi jam tangan sering kali berawal dari model-model modern yang lebih mudah diakses.
Hal ini pernah dialami oleh Adam Golden, pemilik Menta Watches di Miami, AS, yang mengawali hobinya dari jam tangan keluaran terbaru sebelum akhirnya jatuh hati pada Rolex Daytona reference 6262 buatan 1960-an.
Pengalaman estetis dan cerita sejarah di balik jam lama membuat banyak orang tertarik memasuki pasar jam tangan vintage.
Secara umum, para pakar mengategorikan jam tangan vintage sebagai rilisan sebelum era 1980-an—masa sebelum hadirnya desain berbasis komputer yang melahirkan produksi massal serba terstandarisasi.
Pahami Detail Sebelum Membeli Jam Tangan Vintage
Nasihat klasik “belilah apa yang kamu sukai” dinilai kurang memadai oleh Eric Wind, pendiri Wind Vintage sekaligus penulis buku Vintage Watches: The Modern Guide.
Menurut Wind, calon pembeli seharusnya memegang prinsip untuk membeli apa yang benar-benar mereka pahami (“buy what you know”).
“Jika kamu bukan seorang ahli, kamu tidak bisa begitu saja membuka eBay atau Chrono24 dan berharap menemukan contoh jam terbaik.”
“Kita harus membelinya dari seorang ahli dan memahami apa yang kita beli,” ujar Wind.
Pasar jam tangan vintage menyimpan banyak nuansa teknis.
Mengamati perkembangan pelat (dial) pada model legendaris seperti Rolex GMT-Master atau Daytona saja bisa memakan waktu riset bertahun-tahun.
Selain itu, kondisi pemolesan (polishing) juga memengaruhi nilai jual.
Mayoritas jam tua yang rutin diservis umumnya pernah dipoles ulang, bahkan pemolesan berlebih atau penggantian pelat asli dari pabrik dapat merosotkan nilai historis dan harga jam hingga lebih dari 90 persen.
Keaslian Menjadi Kunci Utama

Tania Edwards, co-founder platform edukasi jam Patek Philippe, Collectability, menegaskan bahwa dorongan berburu jam dengan komponen asli tanpa restorasi berlebih adalah penggerak utama pasar ini.
Ia menyebut bahwa calon pembeli sering kali menanyakan apakah sebuah jam pernah dipoles.
Bagi jam yang berusia 50 tahun, wajar jika pernah diservis atau dipoles tipis, selama tidak mengikis bentuk aslinya secara ekstrem.
Faktor anggaran juga menentukan tingkat keaslian yang bisa didapatkan.
Wind memberikan gambaran jika seseorang berburu Rolex Submariner no-date (referensi 5513 atau 5512) era 60-an hingga 90-an dengan anggaran sekitar Rp240 juta (15.000 dolar AS), mereka mungkin harus berkompromi mendapatkan unit yang bagian bezel-nya sudah pernah diganti.
Sebagai informasi, sisipan bezel orisinal Rolex dari era 1960-an saja bisa bernilai sekitar Rp48 juta (3.000 dolar AS) secara terpisah.
Tren Pasar dan Jebakan Kelengkapan Dokumen
Pasar jam tangan vintage selalu bergerak dinamis dan siklikal.
Saat ini, kronograf vintage Heuer era 1960-an dan 1970-an menjadi pilihan menarik di kisaran harga di bawah Rp160 juta (10.000 dolar AS).
Merek lain seperti Universal Genève, Audemars Piguet era pra-Royal Oak, serta Cartier klasik era sebelum 1970-an juga mengalami peningkatan minat yang signifikan.
Bahkan, model Cartier Crash tahun 1990 baru-baru ini terjual hingga sekitar Rp32 miliar (2 juta dolar AS).
Di sisi lain, salah satu kekeliruan yang kerap dialami pembeli pemula jam tangan vintage adalah obsesi berlebihan terhadap kelengkapan kotak dan dokumen asli (box and papers).
Golden menuturkan bahwa kelengkapan sertifikat memang krusial untuk jam modern karena memengaruhi harga jual secara signifikan.
Namun, untuk jam berusia setengah abad, wajar jika dokumen aslinya sudah hilang dimakan waktu.
Wind menambahkan bahwa perburuan kotak dan kertas dokumen pada jam tangan vintage justru rawan dimanfaatkan oleh penjual nakal, mengingat banyaknya perdagangan kotak bekas dan dokumen palsu di pasar gelap.
Bagi para kolektor pemula, fokus utama sebaiknya tetap ditujukan pada kondisi keaslian unit jam itu sendiri alih-alih sekadar mengejar kelengkapan aksesorisnya.