MALEINSPIRE.id – Perdebatan sengit mengenai harga tiket Piala Dunia 2026 kini tengah menjadi pusat perhatian global, bahkan mengalahkan euforia format baru turnamen yang akan diikuti oleh 48 tim nasional.
Turnamen akbar yang digelar kolaboratif di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini terancam dicap sebagai edisi paling mahal dalam sejarah sepak bola.
Ketegangan perihal harga tiket Piala Dunia 2026 bahkan telah bergeser ke ranah hukum.
Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport resmi melayangkan panggilan pengadilan kepada FIFA terkait ketidakjelasan tarif dan lokasi kursi penonton.
Menurut mereka, lonjakan harga ini jauh lebih tinggi dibanding edisi sebelumnya dan mencederai harapan masyarakat lokal yang sudah lama menanti kehadiran kompetisi ini di wilayah mereka.
Jaksa mengkritik tajam masalah transparansi, mulai dari sistem pembelian yang membingungkan hingga dugaan adanya “kelangkaan buatan” demi mendongkrak harga.
Siasat Dynamic Pricing di Balik Lonjakan Harga Tiket Piala Dunia 2026

Biang kerok utama dari mahalnya tarif masuk stadion ini adalah penerapan sistem dynamic pricing, sebuah skema di mana harga tiket berubah secara fluktuatif mengikuti tinggi rendahnya permintaan pasar.
Kebijakan komersial ini sempat dibela oleh Presiden FIFA Gianni Infantino, yang beralasan bahwa standar harga hiburan di Amerika Serikat memang tinggi dan permintaan global terhadap Piala Dunia sangat masif.
Namun, dampak dari kebijakan ini justru memicu gelombang kritik karena dinilai tidak berpihak pada pencinta sepak bola tradisional:
-
Ketimpangan Harga yang Jauh: Harga tiket final di MetLife Stadium, New Jersey, dilaporkan menembus ribuan dolar AS. Angka ini melonjak hingga lima kali lipat dibanding final Qatar 2022, dan puluhan kali lipat lebih mahal jika dibandingkan dengan Piala Dunia 1994.
-
Pembengkakan Biaya Tambahan: Selain tiket masuk, publik juga mengeluhkan meroketnya biaya sekunder seperti tarif parkir, transportasi menuju stadion, serta sangat terbatasnya kuota tiket kategori murah.
Ancaman Hilangnya Inklusivitas Sepak Bola
Sengkarut ini membuat sejumlah kelompok suporter melayangkan keluhan resmi ke Uni Eropa.
Banyak penggemar merasa cemas bahwa Piala Dunia mulai kehilangan sifat inklusifnya, terutama bagi pencinta sepak bola dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang kini terancam hanya bisa menjadi penonton layar kaca.
Saat ini, investigasi hukum di Amerika Serikat masih terus berjalan dan pihak FIFA belum memberikan respons yang mampu meredakan kekhawatiran publik.
Piala Dunia 2026 kini berada di persimpangan jalan: menjadi edisi terbesar dan paling meriah, atau justru dikenang sebagai momentum di mana sepak bola kehilangan jiwanya akibat kapitalisasi yang berlebihan.