MALEINSPIRE.id – Peristiwa kelam dalam sejarah kriminalitas Amerika Serikat sering kali meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar terhapus, salah satunya misteri pembunuhan di kamar 1046 Hotel President.
Pada 2 Januari 1935, seorang pemuda, Artemus Ogletree berusia 19 tahun check-in ke kamar 1046 di Hotel President yang mewah di Kansas City, Missouri. Ia menggunakan identitas palsu, Roland T. Owen.
Pemuda itu tiba dengan penampilan rapi, mengenakan mantel hitam, namun hanya membawa sedikit barang bawaan: sikat rambut hitam, sisir, dan sebotol pasta gigi.
Seorang staf hotel mengantarnya ke lantai 10.
Di era itu, lokasi hotel tersebut berada di jantung kota yang sibuk, dikelilingi oleh hiburan malam yang populer, namun juga menjadi sarang bagi aktivitas kejahatan terorganisir.
Interaksi awal mereka berjalan biasa saja, sekadar obrolan ringan sebelum berpisah.
Hanya dua hari berselang, staf yang sama menemukan Ogletree dalam kondisi mengenaskan di kamarnya.
Ia diikat, berlumuran darah, tanpa busana, dan berjuang mempertahankan nyawanya akibat siksaan brutal.
Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, Ogletree akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Pihak berwenang menyatakan kematiannya sebagai pembunuhan, namun ironisnya, tak satu pun tersangka pernah diajukan ke pengadilan atas kematiannya.
Kasus ini pun kemudian dikenal sebagai misteri pembunuhan di kamar 1046.
“Semakin tua usianya, semakin sulit sebuah kasus untuk dipecahkan,” ungkap pakar kasus dingin dan mantan agen khusus Naval Criminal Investigative Service, Joe Kennedy, kepada A&E Crime + Investigation.
“Bahkan jika kita mengetahui siapa pelakunya, keadilan mungkin tidak benar-benar ditegakkan, selain mungkin memberi sedikit kepastian bagi keluarga.”
Interaksi Ganjil Sebelum Kasus Pembunuhan di Kamar 1046

Periode antara waktu kedatangan hingga penemuan Ogletree dipenuhi dengan kejanggalan.
Berdasarkan laporan kepolisian yang dikutip oleh Kansas City Magazine, seorang petugas kebersihan bernama Mary Soptio mencatat perilaku tak biasa dari sang tamu.
Meskipun Ogletree bersikap sopan, ia selalu menjaga kamarnya agar tetap remang-remang dengan tirai tertutup rapat.
Soptio mengenang permintaan spesifik dari pemuda itu saat ia sedang membersihkan kamar.
“Jangan kunci pintu saya, karena saya sedang menunggu seorang teman dalam beberapa menit,” ucap Ogletree kala itu.
Dari bahasa tubuh dan raut wajahnya, Soptio menyimpulkan bahwa Ogletree tampak sedang mencemaskan atau menakutkan sesuatu.
Selain itu, kesaksian lain menambah lapisan misteri pada kasus pembunuhan di kamar 1046.
Seorang tamu di kamar sebelah melaporkan mendengar suara keras pria dan wanita yang sedang berdebat dan mengumpat pada suatu malam.
Seorang operator lift juga menyebutkan bahwa ia pernah mengantar seorang pekerja seks komersial ke lantai 10, meski tidak dapat dipastikan apakah wanita tersebut mengunjungi kamar 1046.
Siksaan Fatal dan Analisis Forensik dalam Kasus Artemus Ogletree

Puncak kengerian terjadi pada pagi hari, 4 Januari 1935.
Seorang staf terpaksa masuk ke kamar Ogletree karena telepon kamar tersebut terus-menerus dibiarkan terangkat.
Pemandangan yang tersaji sangat brutal: Ogletree ditemukan di dalam bak mandi dalam kondisi sekarat, telanjang, dengan leher, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki terikat.
Tubuhnya penuh luka tikam, memar akibat pukulan benda tumpul, dan tanda-tanda pencekikan.
Polisi menemukan percikan darah di dinding, tempat tidur, dan kamar mandi.
Menariknya, dalam percakapan terakhirnya dengan dokter dan detektif sebelum meninggal, Ogletree membantah bahwa luka-lukanya adalah upaya bunuh diri, tetapi ia juga bersikeras bahwa tidak ada orang lain yang bertanggung jawab.
Kennedy memberikan analisis tajam terkait kondisi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan di kamar 1046.
“Pada pandangan pertama, sangat sulit untuk mengatakan bahwa pria ini melakukan semua hal ini pada dirinya sendiri. Apakah mungkin? Ya. Apakah masuk akal? Mungkin tidak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kennedy menyoroti keberadaan banyak penyebab kematian, seperti retak tulang tengkorak dan luka tikam ganda, yang mengindikasikan adanya rekayasa TKP atau luapan amarah yang ekstrem.
“Kita sering melihat amarah di lokasi kejahatan, dan amarah itu terlihat ketika ada banyak cipratan darah serta luka robek pada korban, yang menunjukkan eskalasi perilaku penyerangan. Saya tidak melihat adanya hal itu di TKP ini,” tambah Kennedy.
Melihat korban ditemukan tanpa busana, Kennedy juga menduga kuat bahwa kejahatan ini bermotif gairah dan pelaku memiliki hubungan personal dengan korban, yang mungkin melibatkan komponen seksual.
Butuh waktu hampir dua tahun bagi pihak berwenang untuk mengonfirmasi identitas asli “Roland T. Owen”.
Identifikasi baru berhasil setelah ibunya, Ruby Ogletree, melihat foto putranya di surat kabar.
Ia mengonfirmasi bahwa putranya meninggalkan rumah di Birmingham pada April 1934 dan tiba di Kansas City pada Agustus di tahun yang sama.
Bunga, Uang Misterius, dan Akhir Kasus yang Menggantung
Sekitar 11 minggu pasca kematiannya, pihak kepolisian berencana memakamkan Ogletree di pemakaman umum untuk orang miskin.
Namun, rencana ini terhenti oleh panggilan telepon anonim yang menawarkan untuk menanggung biaya pemakaman di Memorial Park Cemetery.
Penelepon tersebut bahkan meninggalkan pesan samar, menyatakan bahwa Owen tidak bermain adil dan para penipu biasanya mendapatkan balasan yang setimpal.
Dua hari kemudian, dana pemakaman benar-benar dibayarkan.
Secara bersamaan, 13 tangkai mawar dikirimkan ke pemakaman dengan pesan, “Cinta selamanya, Louise.” Polisi gagal melacak sumber dana maupun pengirim bunga tersebut.
Bagi Kennedy, fenomena pasca-kematian ini, meskipun aneh, sebaiknya tidak mengalihkan fokus dari bukti utama kasus pembunuhan di kamar 1046.
“Orang-orang melakukan hal-hal aneh setelah seseorang meninggal, jadi saya sama sekali tidak terkejut,” kata Kennedy.
“Anda harus mengikuti bukti, garis waktu, dan saksi, serta tidak terganggu oleh apa yang terjadi sesudahnya, karena hal-hal aneh yang terjadi setelah seseorang dibunuh mungkin tidak ada hubungannya dengan kasus tersebut.”
Pada akhirnya, Kennedy bersikap realistis terhadap penyelesaian kasus pembunuhan di kamar 1046.
“Kasus-kasus lama ini sangat sulit karena bukti fisik telah hilang atau terbuang, dan sering kali, saksi-saksi telah meninggal.”
“Jadi, Anda tidak akan berhasil meminta pertanggungjawaban dari siapa pun,” tutupnya.