Mengapa Kursi di Kereta Api Tidak Memiliki Sabuk Pengaman?

kereta api

MALEINSPIRE.id – Para pelancong terbiasa selalu mengenakan sabuk pengaman (seatbelt) ketika menggunakan mobil, bus, atau pesawat sebagai upaya mitigasi risiko keselamatan. Namun, kereta api secara konsisten tidak menerapkan sabuk pengaman. Mengapa demikian?

Ternyata, ada alasan khusus mengapa sabuk pengaman tidak digunakan di kursi kereta api.

Menurut Thomas Barth, pakar keselamatan transportasi dan mantan penyelidik faktor keselamatan di National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat, tidak adanya sabuk pengaman di kereta didasarkan pada perhitungan risiko dan desain operasional yang unik.

6 Tren Wisata 2026, Dari Fan Voyage hingga Wisata Literasi

Kecelakaan kereta api relatif sangat rendah

kereta api

Alasan utama tidak diterapkannya sabuk pengaman adalah karena kecelakaan kereta api relatif sangat jarang terjadi jika dibandingkan moda transportasi darat lainnya.

Data dari Federal Railroad Administration menunjukkan bahwa pada tahun 2024, terjadi sekitar 2.261 insiden di perlintasan rel dengan 262 korban jiwa.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, kecelakaan lalu lintas di jalan raya menelan lebih dari 39.000 korban jiwa.

“Kereta beroperasi di lingkungan yang sangat terkendali di atas rel dengan operator profesional. Risiko yang ada sudah dianggap sangat rendah tanpa perlu menambah sabuk pengaman,” tutur Barth.

Tips Memilih Kursi Kereta Api Supaya Tidak Mabuk Selama Perjalanan

Selain itu, gaya benturan (impact force) pada kecelakaan kereta umumnya jauh lebih kecil daripada mobil.

Karena memiliki massa yang sangat besar, kereta cenderung melambat secara bertahap saat terjadi insiden, sehingga gaya benturan yang dihasilkan menjadi lebih minim.

Hanya dalam situasi ekstrem, seperti tabrakan langsung antar dua kereta atau anjlokan besar, gaya benturan dapat mencapai level tinggi, namun kejadian ini sangat jarang terjadi.

Alih-alih berfokus pada sabuk pengaman, industri perkeretaapian mengutamakan sistem pencegahan kecelakaan, seperti Positive Train Control (PTC), sistem otomatis nasional yang mampu menghentikan kereta jika terdeteksi berpotensi terjadi tabrakan atau kesalahan manusia.

Perbandingan risiko antar moda transportasi

Menurut Rail Passengers Association, bepergian dengan kereta api dinilai 17 kali lebih aman dibandingkan dengan mobil.

Meskipun jika diukur berdasarkan jarak tempuh pesawat terbang masih unggul dalam keselamatan, secara umum, baik kereta api maupun pesawat terbang jauh lebih aman daripada moda transportasi darat lainnya.

Alasan praktis sabuk pengaman tidak ideal

kereta api

Barth menjelaskan beberapa alasan praktis dan desain mengapa sabuk pengaman justru tidak ideal untuk diterapkan di kereta api:

  • Biaya dan Desain Kursi: Implementasi sabuk pengaman memerlukan desain ulang total pada kursi kereta, yang akan melibatkan biaya tinggi dan membuat kursi menjadi lebih kaku dan tidak nyaman.

  • Risiko Tambahan bagi Penumpang Berdiri: Penumpang yang berdiri atau berjalan berisiko cedera lebih parah jika terlempar ke kursi yang diperkeras oleh sabuk pengaman.

  • Kapasitas Berkurang: Banyak kereta komuter memiliki area berdiri. Kewajiban mengenakan sabuk pengaman akan memaksa pengurangan jumlah penumpang secara signifikan.

Gunung Fuji akan Dibangun Jalur Kereta, Mudahkan Pendaki Gunung

Meskipun tanpa sabuk pengaman, standar keselamatan kereta api tetap tinggi.

Regulasi seperti Title 49 CFR Part 238.233 memastikan interior kereta didesain dengan “geometri aman,” di mana bentuk kursi dan pegangan didesain untuk mengurangi risiko cedera tanpa perlu bantalan tambahan.

Barth menyimpulkan bahwa meskipun tidak ada moda transportasi yang 100 persen aman, desain dan regulasi yang diterapkan di kereta telah menurunkan risiko ke level yang dapat diterima tanpa memerlukan sabuk pengaman.