
MALEINSPIRE.id – Tanpa perlu sepatah kata pun, cara seseorang berdiri atau menjaga postur tubuh dapat memberi kesan pertama sekaligus mencerminkan kepribadiannya.
Apakah ia berdiri tegak, membungkuk, atau menutup tubuhnya, semua itu menjadi isyarat tentang cara seseorang memandang dirinya sendiri, status sosial, hingga hubungannya dengan orang lain.
Menariknya, pola ini tidak hanya muncul dalam situasi penuh tekanan, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal PubMed pada 23 September 2024 menguatkan hal ini.
Studi berskala besar yang dipimpin oleh Soren Wanio-Theberge dan Jorge Armony dari Universitas McGill menemukan bahwa postur tubuh yang konsisten dari waktu ke waktu ternyata dapat mencerminkan kepribadian yang stabil.
Postur tegak tanda dominan, membungkuk tanda empati
Sebagaimana dilaporkan Earth, individu dengan postur tegak, dada terbuka, dan kepala sedikit terangkat cenderung memperlihatkan sifat dominan.
Sebaliknya, orang dengan postur tertutup atau lebih sering menunduk kerap diasosiasikan dengan sikap tunduk dan empati yang lebih tinggi.
Peneliti menyoroti fleksi leher —yakni seberapa jauh kepala menunduk atau terangkat— sebagai indikator paling jelas.
- Dagu terangkat: cenderung terkait dengan sifat dominan, manipulatif, hingga ciri antisosial seperti psikopati primer dan Machiavellianisme.
- Kepala menunduk: lebih sering dikaitkan dengan kontrol emosi yang lebih baik.
Namun, para ahli menegaskan bahwa temuan ini bersifat korelasi kelompok, bukan diagnosis individu. Postur hanyalah sinyal tambahan, bukan penentu mutlak kepribadian seseorang.
Bukan selalu pemalu atau berkuasa
Studi yang melibatkan lebih dari 600 partisipan muda ini menunjukkan bahwa postur dasar seseorang cenderung stabil, bahkan setelah sebulan pengamatan.
Hal ini memperkuat pandangan bahwa postur tubuh merupakan salah satu elemen penting dalam komunikasi nonverbal.
Tubuh tegak sering dianggap sebagai simbol kepercayaan diri dan otoritas. Sebaliknya, tubuh yang cenderung menunduk dapat terbaca sebagai tanda kerendahan hati atau ketidaknyamanan.
Meski demikian, konteks tetap memegang peranan utama. Seseorang yang terlihat menunduk tidak selalu pemalu, dan mereka yang berdiri tegak belum tentu berkuasa.
Intinya, postur tubuh memang memberi kesan pertama yang kuat, tetapi pemahaman yang lebih menyeluruh tetap harus mempertimbangkan ekspresi wajah, intonasi suara, serta bahasa tubuh lain yang menyertainya.