Fenomena Pareidolia, Saat Otak Melihat Wajah Misterius pada Benda Mati

fenomena pareidolia

MALEINSPIRE.id – Pernah secara tidak sengaja menangkap bentuk menyerupai wajah pada guratan kayu, susunan awan, atau permukaan batu? Fenomena unik ini disebut sebagai fenomena pareidolia.

Fenomena pareidolia sering kali memicu rasa penasaran, bahkan terkadang dikaitkan dengan pengalaman mistis atau supranatural. Namun secara sains, kejadian tersebut memiliki penjelasan medis yang sangat logis.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai mekanisme otak di balik ilusi visual yang kita alami sehari-hari.

Apa itu fenomena pareidolia?

Istilah pareidolia berasal dari bahasa Yunani, yaitu para (menyimpang/keliru) dan eidolon (bentuk/citra).

Dalam ranah medis, fenomena pareidolia merupakan bagian dari apofenia, yaitu kecenderungan otak manusia untuk menemukan pola atau makna tersembunyi pada rangsangan visual maupun auditori yang sebenarnya bersifat acak.

Fenomena pareidolia bukan sekadar hasil imajinasi yang terlalu aktif, melainkan produk dari evolusi otak manusia.

Sejak zaman prasejarah, kemampuan mengenali wajah dengan cepat —baik itu kawan maupun ancaman predator— sangat krusial untuk bertahan hidup.

Akibatnya, otak kita menjadi sangat sensitif terhadap pola yang menyerupai wajah, meskipun pola tersebut muncul pada objek tak bernyawa.

Mekanisme kerja otak: “positif palsu”

fenomena pareidolia

Dalam memproses informasi, sistem visual manusia sering kali menghasilkan apa yang disebut sebagai positif palsu.

Artinya, otak lebih memilih untuk salah mendeteksi adanya wajah daripada melewatkan satu wajah yang sebenarnya ada.

Menariknya, ilusi ini tidak hanya terbatas pada bentuk, tetapi juga sering kali memunculkan kesan emosi (seperti wajah yang tampak marah atau tersenyum) atau karakter tertentu pada benda tersebut.

Kaitan dengan kondisi neurologis dan visual

Meskipun pareidolia adalah hal yang wajar, intensitasnya dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu:

  • Gangguan Neurologis: Penderita penyakit Parkinson dan demensia Lewy body dilaporkan mengalami pareidolia dengan frekuensi yang lebih tinggi.

  • Visual Snow Syndrome: Peneliti dari The University of Queensland menemukan bahwa individu dengan gangguan penglihatan berupa bintik-bintik berkilau (visual snow) merasakan ilusi wajah ini jauh lebih jelas akibat hipereksitabilitas pada korteks visual otak.

  • Korelasi Psikologis: Studi dalam jurnal PLoS One (2022) menunjukkan bahwa individu yang mengalami pareidolia secara intens cenderung memiliki keterbukaan terhadap pengalaman paranormal atau meyakini adanya kemampuan indra keenam.

Melihat “wajah-wajah” di sekitar kita adalah bukti betapa efisiennya otak manusia dalam memproses informasi secara cepat.

Fenomena pareidolia merupakan respons alami yang berakar dari insting bertahan hidup, bukan sebuah pertanda gangguan supranatural atau keberadaan entitas mistis.