MALEINSPIRE.id – Dalam dunia kesehatan reproduksi pria, salah satu kondisi yang paling menantang adalah azoospermia, atau lebih dikenal dengan istilah sperma kosong.
Kondisi ini ditandai dengan tidak adanya sel sperma dalam cairan mani, meskipun secara fisik proses ejakulasi tetap terlihat normal.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai penyebab, klasifikasi, serta langkah medis yang dapat diambil.
Faktor pemicu azoospermia: dari gaya hidup hingga lingkungan
Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital, Christian Christoper Sunnu, menjelaskan bahwa azoospermia dapat dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
Di era modern, penurunan kualitas sperma secara global telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, yakni menurun lebih dari 50 persen dalam 50 tahun terakhir.
Beberapa faktor gaya hidup yang menjadi pemicu utama antara lain:
-
Pola Makan Buruk: Konsumsi makanan tinggi gula, pengawet, dan makanan ultra-proses secara berlebihan.
-
Kebiasaan Buruk: Merokok, konsumsi alkohol, serta paparan polusi udara yang terus-menerus.
-
Gangguan Psikologis dan Fisik: Stres kronis dan kurang tidur yang mengganggu keseimbangan hormon.
-
Kondisi Medis: Riwayat infeksi (seperti gondongan atau pasca-Covid-19) serta penggunaan suplemen hormon tanpa pengawasan medis.
Klasifikasi azoospermia: tipe sumbatan vs non-sumbatan

Memahami jenis azoospermia sangat penting untuk menentukan langkah penanganan medis selanjutnya. Secara medis, kondisi ini terbagi menjadi dua kategori utama:
| Tipe Azoospermia | Penjelasan | Penyebab umum |
| Tipe Sumbatan | Produksi sperma normal, namun terhambat saat keluar. | Infeksi saluran reproduksi, trauma fisik pada testis, atau kelainan genetik sejak lahir. |
| Tipe Non-Sumbatan | Terjadi gangguan langsung pada proses produksi sperma di testis. | Varikokel, gangguan hormon, paparan zat kimia toksik, atau kerusakan jaringan testis. |
Tantangan pengobatan dan solusi reproduksi
Hingga saat ini, dunia medis mengakui bahwa azoospermia merupakan kondisi yang sulit dipulihkan sepenuhnya.
Belum ada terapi tunggal yang mampu meningkatkan jumlah sperma dari nol menjadi normal secara instan.
Namun, harapan bagi pasangan untuk memiliki keturunan tetap ada.
Pada kasus tipe non-sumbatan, terapi hormon atau pendekatan inovatif seperti stem cell dapat dipertimbangkan untuk merangsang produksi sperma.
Jika metode tersebut belum membuahkan hasil, prosedur bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) menjadi solusi paling efektif, di mana tim medis akan mencoba mengambil sperma langsung dari jaringan testis melalui tindakan pembedahan kecil.
Pentingnya menjaga kesehatan testis sejak dini
Sunnu menekankan bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi pria, khususnya testis, seharusnya dilakukan sejak usia dini.
Testis memiliki peran vital yang sangat sulit pulih jika sudah mengalami kerusakan permanen.
Mengadopsi gaya hidup sehat, menghindari perilaku seks berisiko, serta melakukan pemeriksaan rutin adalah langkah preventif terbaik sebelum merencanakan pernikahan.