MALEINSPIRE.id – Kita tumbuh dengan memercayai bahwa dua kepribadian yang bertolak belakang akan saling melengkapi. Namun tahukah kamu bahwa jarak kedewasaan emosional dapat memengaruhi hubungan?
Ketika menjalani dinamika kehidupan nyata, jarak atau perbedaan kedewasaan emosional kerap menyisakan tantangan dalam hubungan asmara.
Tak jarang, salah satu pihak merasa seolah-olah sedang “mengasuh” atau menjadi orangtua bagi pasangannya.
Psikolog konseling dan life coach berpengalaman, Damini Grover, menjelaskan bahwa karakter spontan dan santai yang terlihat menggemaskan saat masa pendekatan bisa berubah menjadi hal yang menjengkelkan saat memasuki jenjang pernikahan.
Sebab, seiring bertambahnya tanggung jawab, komunikasi yang jujur serta dukungan emosional yang matang menjadi kebutuhan utama.
Beda Jiwa Muda dan Ketidakdewasaan Emosional
Grover menegaskan bahwa ada batas yang jelas antara memiliki jiwa muda (childlike) dan ketidakdewasaan emosional (emotionally immature).
Menurutnya, orang yang memiliki jiwa muda bisa tetap menyenangkan dan penuh rasa ingin tahu, tetapi di saat yang sama tetap bertanggung jawab serta hadir di masa-masa sulit.
Sebaliknya, ia menuturkan bahwa ketidakdewasaan emosional kerap ditandai dengan sifat enggan bertanggung jawab, defensif saat menerima masukan, hingga menutup diri setiap kali terjadi konflik.
Seseorang yang belum dewasa secara emosional umumnya selalu berharap orang lain yang mengelola dan menenangkan perasaannya.
Dampaknya dalam Hubungan terhadap Dinamika Pasangan
Ketika hanya satu orang yang melakukan ” kerja emosional”—seperti mengambil inisiatif pembicaraan berat, menyelesaikan masalah, dan mengelola emosi pasangan—hubungan akan bergeser dari mitra sejajar menjadi relasi orangtua dan anak.
Imbal balik yang tidak seimbang ini lambat laun dapat mengikis keharmonisan.
Grover mengingatkan bahwa kedewasaan emosional dalam hubungan sama sekali tidak berkaitan dengan usia biologis.
Pertanyaan utamanya bukanlah siapa yang paling dewasa, melainkan apakah kedua belah pihak mampu memproses emosi masing-masing, bertanggung jawab, dan mau tumbuh bersama.
Bertumbuh Bersama di Tengah Perbedaan
Memiliki kedewasaan emosional bukan berarti kamu harus bersikap kaku atau serius setiap saat.
Sifat humoris dan kasual tetap bisa berjalan berdampingan dengan komitmen untuk saling mendukung.
“Menjadi dewasa secara emosional adalah tentang memiliki kesadaran diri, bersedia membenahi pola diri sendiri, mengambil tanggung jawab, serta mendukung satu sama lain,” ungkap Grover.
Pernikahan atau hubungan yang kuat pada akhirnya tidak menuntut dua orang memiliki kepribadian yang identik.
Hal yang paling krusial adalah kesediaan kita untuk saling memahami, memulihkan hubungan setelah berselisih, dan tetap saling melengkapi—terutama di situasi yang tidak nyaman sekalipun.