MALEINSPIRE.id – Kisah ini berawal dari sebuah ironi yang hampir mustahil dipercaya, di mana seorang detektif kulit hitam di Colorado Springs berhasil menyamar menjadi anggota resmi Ku Klux Klan (KKK), organisasi supremasi kulit putih yang paling ditakuti di AS.
Tidak hanya menjadi anggota, ia bahkan menjalin hubungan pribadi melalui telepon dengan David Duke, sang “Grand Wizard” atau pemimpin tertinggi organisasi tersebut.
Kisah nyata Ron Stallworth bukan sekadar keberuntungan, melainkan sebuah mahakarya intelijen yang menggabungkan keberanian, kecerdasan, dan absurditas yang luar biasa.
Bergabungnya detektif kulit hitam ke KKK: awal mula dari iklan baris
Pada Oktober 1978, Ron Stallworth yang saat itu berusia 25 tahun, merasa jenuh dengan tugas administratifnya sebagai detektif kulit hitam pertama dalam sejarah Kepolisian Colorado Springs.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah iklan baris di surat kabar lokal yang berisi undangan untuk bergabung dengan Ku Klux Klan.
Sepanjang perjalanannya, KKK dikenal menganut ideologi supremasi kulit putih (rasisme) dan aksi kekerasannya terhadap kelompok minoritas –termasuk warga berkulit hitam.
Terdorong oleh rasa ingin tahu dan naluri detektifnya, Ron menulis surat lamaran dengan menyamar sebagai seorang pria kulit putih yang rasis dan benci terhadap minoritas.
Tanpa disangka, satu minggu kemudian, ia menerima telepon dari Ken Odell, penyelenggara lokal KKK.
Dalam hitungan detik, detektif kulit hitam itu harus memutuskan: menutup telepon atau masuk ke dalam peran rasis yang ia ciptakan. Ia memilih yang kedua.
Strategi dua Ron Stallworth

Masalah besar muncul ketika KKK mengundang Ron untuk bertemu secara langsung.
Secara fisik, Ron Stallworth adalah detektif kulit hitam, identitas yang mustahil dibawa ke pertemuan KKK.
Di sinilah strategi brilian namun berisiko tinggi dijalankan. Ron merekrut rekan kerjanya, Chuck, seorang detektif kulit putih, untuk menjadi “wajah” Ron Stallworth dalam pertemuan tatap muka.
Selama sembilan bulan berikutnya, sosok “Ron Stallworth” dijalankan oleh dua orang berbeda: Ron asli menangani semua komunikasi melalui telepon, sementara Chuck menghadiri semua pertemuan fisik dan upacara pembakaran salib.
Keduanya harus menyinkronkan setiap detail, mulai dari gaya bicara hingga cerita latar belakang, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Mengelabui sang “Grand Wizard“
Salah satu bagian paling mengejutkan dari investigasi ini adalah hubungan Ron dengan David Duke.
Karena keterlambatan pengiriman kartu keanggotaannya, detektif kulit hitam itu memberanikan diri menelepon markas nasional KKK dan secara kebetulan berbicara langsung dengan Duke.
Ron menggunakan sanjungan dan retorika rasis untuk memenangkan hati Duke. Ironisnya, Duke pernah sesumbar bahwa ia memiliki “radar rasial” yang mampu mendeteksi orang kulit hitam hanya dari suaranya.
Sambil tertawa, Duke memberi tahu Ron bahwa ia tidak akan pernah bisa tertipu oleh orang kulit hitam di telepon.
Padahal, di ujung telepon yang lain, seorang detektif kulit hitam –yakni Ron– sedang mencatat setiap informasi rahasia yang diberikan oleh Duke.
Menggagalkan rencana terorisme dan ancaman NORAD

Infiltrasi ini bukan sekadar lelucon. Melalui Chuck, kepolisian berhasil mengetahui bahwa KKK sedang merencanakan pemboman di kelab malam di Denver.
Informasi ini segera diteruskan ke FBI dan kepolisian setempat untuk digagalkan melalui operasi senyap tanpa membocorkan identitas informan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, investigasi ini mengungkap adanya anggota KKK yang bekerja di NORAD (North American Aerospace Defense Command), instalasi militer sensitif yang mengawasi pertahanan nuklir.
Berkat laporan Ron, militer segera memindahkan personel tersebut ke posisi yang tidak memiliki akses terhadap senjata dan bahan peledak, sehingga potensi ancaman terorisme domestik dari dalam militer berhasil diredam.
Bodyguard dan foto yang menjadi trofi
Absurditas mencapai puncaknya ketika David Duke berkunjung ke Colorado Springs pada Januari 1979.
Karena adanya ancaman pembunuhan, kepolisian ditugaskan untuk memberikan pengawalan pribadi bagi Duke.
Atas perintah atasannya, Ron Stallworth —detektif kulit hitam yang asli— ditunjuk menjadi pengawal pribadi Duke.
Dalam sebuah jamuan makan, Ron berdiri hanya beberapa sentimeter dari pria yang selama berbulan-bulan ia tipu melalui telepon.
Duke, yang tidak menyadari identitas pengawalnya, sempat melakukan jabat tangan rahasia KKK kepada Ron sebagai bentuk tes. Ron membalasnya dengan sempurna berkat pengetahuannya dari berkas intelijen.
Sebelum kunjungan berakhir, detektif kulit hitam itu meminta foto bersama Duke.
Dengan merangkul pundak sang pemimpin tertinggi rasis tersebut, Ron berhasil mendapatkan sebuah foto Polaroid yang nantinya menjadi trofi kemenangan atas kebencian.
Duke yang menyadari penghinaan tersebut sempat mencoba merebut foto itu, namun Ron dengan tenang mengingatkannya bahwa menyerang petugas polisi adalah tindak pidana serius.
Akhir penyamaran dan warisan sejarah
Operasi ini berakhir ketika KKK lokal menawarkan Ron (melalui Chuck) untuk menjabat sebagai ketua cabang Colorado Springs.
Pihak kepolisian memutuskan untuk menghentikan investigasi karena risikonya yang semakin besar.
Ron Stallworth menghilang begitu saja dari radar KKK, meninggalkan organisasi tersebut dalam kondisi kacau tanpa mereka pernah tahu bahwa orang yang paling mereka percayai adalah musuh terbesar mereka.
Kisah Ron Stallworth mengajarkan kita bahwa rasisme tidak hanya salah secara moral, tetapi juga bisa dikalahkan dengan cara yang paling tidak terduga.
Hingga puluhan tahun kemudian, David Duke tetap menolak percaya bahwa ia pernah dikelabui oleh seorang detektif kulit hitam.
Namun, kartu anggota KKK dan foto legendaris itu tetap menjadi bukti otentik dari salah satu operasi penyamaran paling sukses dalam sejarah kepolisian.