MALEINSPIRE.id – Dunia kehilangan salah satu sosok pemberani ketika aktivis hak buruh dan hak sipil asal Amerika Serikat, Dolores Huerta, meninggal dunia pada 28 Oktober 2026 lalu.
Sepanjang hidupnya, sosok inspiratif ini tak pernah lelah menyuarakan keadilan bagi para pekerja pertanian, kaum perempuan, hingga masyarakat imigran.
Mengutip data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, kiprah besar Dolores Huerta dimulai saat ia turut mendirikan National Farm Workers Association pada tahun 1962.
Organisasi cikal bakal United Farm Workers ini lahir dari keprihatinannya melihat nasib para buruh tani yang harus bekerja dalam kondisi serba terbatas dengan upah yang sangat minim.
Perjuangan Dolores Huerta dalam Gerakan Mogok Kerja dan Boikot
Langkah nyata Dolores Huerta kian berani ketika ia membantu memimpin aksi mogok buruh anggur di Delano, California, pada 1965.
Aksi bersejarah ini digalang guna menuntut imbalan yang layak dan lingkungan kerja yang lebih manusiawi bagi para pekerja di ladang.
Tak berhenti di situ, ia menyerukan aksi boikot produk anggur secara meluas untuk menekan pemilik usaha.
Strategi ini terbukti ampuh memaksa perusahaan membenahi perlakuan serta memberikan perlindungan kerja yang jauh lebih memadai.
Dalam gerakan buruh tersebut, ia terjun langsung merangkul para pekerja, memimpin negosiasi dengan pihak manajemen, hingga menyampaikan aspirasi mereka ke meja pemerintah.
Warisan Slogan “Sí, se puede” dan Pemberdayaan Komunitas
Perjuangan Dolores Huerta tidak sebatas pada sektor pertanian.
Ia juga mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan merangkul komunitas imigran.
Ia terus mendorong kaum perempuan dan masyarakat Latino untuk berani tampil di panggung politik, menggunakan hak pilih, serta memperjuangkan hak-hak mereka.
Atas jasa dan kontribusinya yang luar biasa, Presiden Barack Obama menganugerahkan Presidential Medal of Freedom—penghargaan sipil tertinggi di AS—kepadanya pada tahun 2012.
Sosoknya pun amat melekat dengan slogan legendaris “Sí, se puede” yang berarti “Ya, kita bisa”.
Seruan ini menjelma menjadi simbol persatuan dan semangat pantang menyerah.
Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan nyata selalu bisa diwujudkan ketika masyarakat bersatu menyuarakan keadilan.