Fenomena Delayed Ejaculation: Penyebab Pria Ejakulasi Terlambat dan Cara Mengatasinya

delayed ejaculation

MALEINSPIRE.id – Sebagian besar dari kita mungkin lebih sering mendengar istilah ejakulasi dini. Namun, ada kondisi sebaliknya yang tak kalah memengaruhi kehidupan seksual pria, yaitu fenomena delayed ejaculation atau ejakulasi tertunda.

Delayed ejaculation terjadi ketika seorang pria membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya untuk mencapai ejakulasi dan klimaks saat berhubungan seksual.

Penting untuk dipahami bahwa ejakulasi dan orgasme sebenarnya adalah dua proses fisiologis yang berbeda, meski sering terjadi secara bersamaan.

“Tidak ada batasan waktu yang kaku mengenai seberapa lama durasi yang dianggap ‘terlalu lama’.”

“Namun, jika secara konsisten membutuhkan waktu lebih dari 20 hingga 30 menit hingga memicu stres, hal itu bisa dianggap sebagai masalah,” ujar Dr Jamin Brahmbhatt, urolog bersertifikat dari Orlando Health.

Sementara itu, Dr Michael Ingber dari Rutgers NJ Medical School menambahkan bahwa delayed ejaculation baru dikategorikan sebagai gangguan medis jika mulai mengganggu kualitas hidup, memicu kecemasan, atau memengaruhi hubungan dengan pasangan.

Faktor Pemicu Fenomena Delayed Ejaculation

Terjadinya ejakulasi membutuhkan respons seksual yang utuh, mulai dari dorongan seksual (libido), gairah, fase konstan (plateau), hingga akhirnya ejakulasi.

Gangguan pada salah satu fase tersebut dapat memicu fenomena delayed ejaculation.

Beberapa faktor pemicu utamanya meliputi:

  • Kondisi Fisik dan Saraf: Cedera pada area genital, penyakit vaskular, diabetes, hingga gangguan saraf seperti multiple sclerosis dan cedera saraf tulang belakang.
  • Kebiasaan Masturbasi Berlebih: Kebiasaan ini dapat membuat sensitivitas penis berkurang terhadap stimulasi alami saat berhubungan intim dengan pasangan.
  • Efek Samping Obat-obatan: Penggunaan obat antidepresan atau anti-kecemasan kerap memberikan efek samping berupa sulitnya mencapai ejakulasi.
  • Konsumsi Alkohol: Alkohol bersifat menekan sistem saraf (depressant), sehingga dapat menurunkan gairah seksual sekaligus menyulitkan pencapaian orgasme.
  • Stres Psikologis: Rasa cemas berlebih di atas ranjang sering kali membuat pria terlalu fokus pada kekhawatirannya sendiri, yang pada akhirnya memperburuk kondisi tersebut.

Langkah dan Solusi Penanganan

Jika kamu atau pasangan mengalami fenomena delayed ejaculation, langkah pertama yang sangat disarankan adalah berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi untuk mengetahui akar penyebabnya.

Dokter akan mengevaluasi berbagai aspek, mulai dari pemeriksaan fisik, jalur saraf, hingga kelancaran aliran darah ke area organ vital menggunakan pemindaian khusus.

Selain itu, penanganan juga bisa dilakukan melalui beberapa pendekatan:

  1. Perubahan Gaya Hidup: Mengurangi konsumsi alkohol, mengelola stres dengan baik, serta membatasi kebiasaan masturbasi intensif.
  2. Penyesuaian Obat: Jika pemicunya adalah obat antidepresan, dokter dapat menyesuaikan dosis atau mengganti jenis obat yang dikonsumsi.
  3. Terapi Seksual dan Komunikasi Open-Minded: Melakukan konseling bersama terapis seks serta membangun komunikasi yang jujur dengan pasangan dapat mengurangi beban psikologis secara signifikan.
  4. Terapi Obat Tambahan (Off-Label): Meski belum ada obat khusus yang disetujui FDA untuk kondisi ini, beberapa urolog terkadang meresepkan hormon oksitosin, obat anti-kecemasan seperti buspirone, atau terapi hormon testosteron sesuai indikasi medis.

Mengalami hambatan ejakulasi bukanlah hal yang perlu membuat kamu merasa malu.

Dengan pemeriksaan yang tepat dari ahlinya, masalah ini dapat diatasi secara bertahap demi menjaga kesehatan reproduksi dan keharmonisan hubungan.