MALEINSPIRE.id – Ada ungkapan populer di kalangan pelancong: jangan mengaku pernah berkunjung ke Kota Bandung jika belum melangkahkan kaki di Jalan Braga.
Koridor sepanjang kurang lebih 700 meter di pusat Kota Bandung ini memang bukan sekadar tempat nongkrong atau destinasi swafoto.
Lebih dari itu, sejarah Jalan Braga menyimpan rekam jejak panjang transformasi fashion, budaya kosmopolitan, hingga arsitektur unik sejak era Hindia Belanda.
Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, deretan lantai batu andesit di sepanjang koridor ini memantulkan fasad bangunan berpintu lengkung berarsitektur Art Deco.
Suasana riuh warga berolahraga, aroma racikan kopi yang menyengat, hingga pajangan karya seniman lukis lokal di trotoar seolah menyambut siapa saja yang berkunjung ke kawasan ikonik di Kota Bandung itu.
Jalan Braga di Kota Bandung: Dari Pedatiweg ke Parijs van Java
Jauh sebelum dipenuhi kafe kekinian, sejarah Jalan Braga bermula pada abad ke-19.
Kawasan ini awalnya hanyalah jalur setapak berlumpur yang dikenal dengan nama Pedatiweg.
Pemerintah Hindia Belanda memfungsikan jalan kecil tersebut untuk mengangkut hasil perkebunan kopi dari Gudang Kopi (kini area Balai Kota) menuju Jalan Raya Pos (Groote Postweg).
Perubahan besar terjadi setelah kelompok teater Toneelvereniging Braga berdiri pada tahun 1882.
Nama “Braga” sendiri diambil dari nama dewa puisi dan musik dalam mitologi Nordik, Bragi.
Kepopuleran kelompok drama ini lambat laun membuat masyarakat mengubah sebutan Pedatiweg menjadi Bragaweg.
Memasuki awal abad ke-20, kawasan ini bertransformasi menjadi pusat pertokoan eksklusif bergaya Eropa.
Toko busana papan atas hingga toko roti bergaya Belanda mulai bermunculan.
Dari sinilah julukan “De meest Europeesche winkelstraat van Indië” (Jalan perbelanjaan paling bergaya Eropa di Hindia Belanda) melekat erat, sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya julukan Parijs van Java bagi Kota Bandung.
Uniknya, toko pertama yang berdiri resmi di kawasan ini bukanlah toko pakaian, melainkan toko senjata api milik C.A. Hellerman pada tahun 1894 yang juga melayani perbaikan senjata dan penjualan sepeda.
Galeri Arsitektur Art Deco dan Deretan Bangunan Cagar Budaya
Berjalan di sepanjang koridor ini membawa kita bak melintasi lorong waktu. Hal ini tak lepas dari tingginya nilai estetika bangunan tua di sekitarnya.
Beberapa bangunan cagar budaya legendaris yang bisa kita jumpai antara lain:
- Gedung De Vries: Bangunan bersejarah yang dulunya merupakan toko serba ada (toserba) pertama di Kota Bandung.
- Gedung Denis (kini Bank BJB): Mahakarya arsitektur Art Deco hasil rancangan arsitek ternama A.F. Aalbers.
- Gedung Merdeka (Societeit Concordia): Tempat berkumpulnya kaum elite kolonial yang di kemudian hari mengukir sejarah dunia sebagai lokasi Konferensi Asia Afrika pada 1955.
- Restoran Braga Permai: Berdiri sejak 1923 dengan nama Maison Bogerijen, restoran legendaris ini dahulu menjadi langganan keluarga Kerajaan Belanda.
Demi menjaga nilai historisnya, Pemerintah Kota Bandung menetapkan kawasan ini sebagai Kawasan Cagar Budaya lewat Perda Nomor 7 Tahun 2018.
Regulasi ini mewajibkan pemilik gedung mempertahankan fasad asli berarsitektur Art Deco, Indische, maupun Indie-European.
Ruang Perjumpaan Masa Lalu dan Masa Kini
Kini, Jalan Braga hadir dengan wajah yang semakin dinamis. Penataan trotoar ramah pejalan kaki (pedestrianization) berhasil menghidupkan kembali denyut komersial kawasan tersebut.
Bangunan kuno seperti Toko Roti Sumber Hidangan (Het Snoephuis) hingga Gedung Landmark kini bersanding harmonis dengan bistro, galeri seni modern, dan kedai kopi kekinian.
Memahami sejarah Jalan Braga membuat kita sadar bahwa kawasan ini bukan sekadar kenangan visual tentang masa lalu, melainkan identitas budaya Kota Bandung yang terus bernapas dan beradaptasi di tengah arus modernisasi.