MALEINSPIRE.id – Baterai solid-state kembali menjadi sorotan setelah tim peneliti dari China mengumumkan terobosan baru yang berpotensi mengubah masa depan kendaraan listrik.
Teknologi ini disebut mampu menghadirkan pengisian daya super cepat dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi dibanding baterai konvensional saat ini.
Studi tersebut dikembangkan oleh Institute of Metal Research di bawah Chinese Academy of Sciences.
Fokus utamanya adalah menciptakan baterai litium-metal berbasis solid-state yang mampu mengatasi salah satu masalah terbesar kendaraan listrik modern: waktu pengisian daya yang masih terlalu lama.
Jika berhasil dikomersialkan, teknologi ini bisa membuat pengalaman mengisi daya mobil listrik terasa mendekati pengisian bahan bakar di SPBU.
Baterai Solid-State Dikembangkan dengan Strategi Baru

Dalam pengembangannya, para peneliti menggunakan elektrolit polimer berbasis polyvinylidene fluoride (PVDF).
Material ini sebenarnya sudah lama dianggap menjanjikan karena memiliki stabilitas oksidasi dan konduktivitas ionik yang baik.
Masalahnya, bahan pelunak pada elektrolit biasanya mudah mengalami degradasi sehingga memicu kerusakan antarmuka elektroda.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti menerapkan metode compatibilizing-solvent plasticization.
Strategi ini memungkinkan pelarut khusus menguap saat proses pembentukan lapisan sehingga bahan pelunak tetap terkunci stabil di jaringan polimer.
Melalui publikasi ilmiahnya, tim peneliti menjelaskan bahwa pendekatan tersebut berhasil menciptakan lapisan antarmuka kaya litium fluorida yang lebih stabil dan mampu mengurangi reaksi samping pada elektroda secara signifikan.
Isi Daya Super Cepat Jadi Keunggulan Utama
Keunggulan terbesar baterai solid-state ini terletak pada kemampuan pengisian dayanya.
Sel baterai kantong atau pouch cell yang dikembangkan mampu bekerja pada tingkat pengisian 20C, yang secara teori setara dengan pengisian penuh hanya dalam waktu sekitar tiga menit.
Tidak hanya cepat, performanya juga tetap stabil. Saat dipadukan dengan katoda tinggi nikel 4,7V, baterai ini masih mampu mempertahankan 81,9 persen kapasitas setelah 700 siklus pengisian cepat.
Angka kepadatan energinya juga terbilang tinggi, mencapai 451,5 Wh/kg. Sebagai perbandingan, baterai lithium iron phosphate (LFP) komersial saat ini rata-rata masih berada di kisaran 200 Wh/kg.
Baterai Solid-State Dinilai Lebih Aman

Selain soal kecepatan dan kapasitas, faktor keamanan menjadi nilai penting dalam pengembangan teknologi ini.
Baterai eksperimental tersebut disebut berhasil melewati nail-penetration test atau uji tusuk paku tanpa mengalami ledakan.
Hasil ini menunjukkan potensi keamanan intrinsik yang lebih baik dibanding beberapa jenis baterai kendaraan listrik saat ini.
Karena itu, banyak pihak mulai melihat baterai solid-state sebagai kandidat utama generasi berikutnya dalam industri kendaraan listrik global.
Persaingan Industri Mobil Listrik Semakin Ketat
Terobosan dari China ini juga mempercepat persaingan antarprodusen baterai dunia.
Beberapa perusahaan besar seperti CATL dan Ganfeng Lithium kini sama-sama berlomba mengembangkan baterai solid-state dengan target kepadatan energi 500 Wh/kg.
Ganfeng Lithium bahkan dikabarkan sudah memasuki tahap produksi skala kecil, sementara CATL tengah melakukan pengujian produksi untuk sel baterai generasi terbaru mereka.
Meski begitu, pasar kendaraan listrik saat ini masih didominasi baterai LFP karena biaya produksi yang lebih murah dan ekosistem industrinya yang sudah matang.
Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, baterai solid-state kini mulai dipandang sebagai langkah besar berikutnya dalam evolusi kendaraan listrik dunia.