Benarkah Gen Z Susah Dapat Kerja? Begini Kata Pakar

gen z susah cari kerja
Asian man in job interview at office background, job search, business concept

MALEINSPIRE.id – Memasuki awal tahun 2026, fenomena pengangguran di kalangan generasi muda atau Gen Z semakin menjadi sorotan global.

Data terbaru menunjukkan bahwa hampir 1 juta Gen Z di Inggris (usia 16–24 tahun) masuk dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training).

Fenomena ini bukan sekadar masalah ekonomi biasa, melainkan sebuah krisis identitas dan kesiapan kerja yang berakar dari hilangnya masa-masa krusial pengembangan sosial selama pandemi.

Gen Z: “Lockdown Generation” dan kesenjangan keterampilan sosial

gen z susah cari kerja

Banyak pakar menyebut fenomena ini sebagai dampak dari era “Lockdown Generation“.

Gen Z yang seharusnya belajar berinteraksi, berkolaborasi, dan memimpin tim di lingkungan sekolah atau kampus secara langsung, justru menghabiskan waktu bertahun-tahun di depan layar.

Kesenjangan sosialisasi ini menciptakan defisit pada soft skills yang sangat krusial di dunia kerja, seperti:

  • Kemampuan berkomunikasi secara tatap muka

  • Ketahanan mental (resilience) dalam menghadapi tekanan

  • Etika profesional dan kedisiplinan dasar

  • Kemampuan berkolaborasi dalam tim yang heterogen

Bahkan, perusahaan raksasa seperti PWC dan KPMG mulai memberikan pelatihan khusus bagi karyawan baru mereka untuk memulihkan keterampilan manusiawi (human skills) ini, karena lulusan terbaru dianggap kurang siap menghadapi realitas kantor.

Hilangnya “batu loncatan” karier

Selain faktor pandemi, tantangan lain adalah menurunnya tren pekerjaan paruh waktu tradisional.

Dahulu, pekerjaan seperti pengantar koran, pengasuh bayi, atau pelayan paruh waktu di akhir pekan menjadi “sekolah pertama” bagi remaja untuk mengenal kedisiplinan dan tanggung jawab.

Tanpa pengalaman “batu loncatan” ini, banyak Gen Z yang merasa terasing saat pertama kali masuk ke dunia kerja profesional yang sangat kompetitif.

Apalagi di tahun 2026 ini, posisi entry-level semakin banyak yang tergerus oleh efisiensi kecerdasan buatan (AI), membuat kompetisi memperebutkan satu posisi bisa melibatkan ribuan pelamar.

Strategi menembus pasar kerja: kembali ke cara “old school

gen z susah cari kerja

Di tengah dominasi rekrutmen digital yang sering kali terasa dingin dan impersonal, para ahli menyarankan Gen Z untuk kembali ke metode konvensional yang lebih manusiawi.

Mengandalkan pengiriman ratusan CV melalui email yang sering kali ditolak secara otomatis oleh sistem AI bisa sangat mematahkan semangat.

Berikut adalah beberapa langkah strategis yang bisa diambil:

  1. Bangun Portofolio di Dunia Nyata: Jangan hanya mengandalkan ijazah. Carilah pengalaman sukarela atau proyek kecil yang melibatkan interaksi langsung dengan orang lain.

  2. Gunakan Taktik Tatap Muka: Untuk bisnis lokal atau perusahaan menengah, cobalah datang langsung membawa CV fisik. Percakapan singkat dengan manajer bisa membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh algoritma.

  3. Latih Ketahanan Diri: Jangan takut keluar dari zona nyaman. Berbicara dengan orang asing dan berani menerima penolakan adalah bagian dari proses pembentukan karakter kerja.

  4. Kurangi Ketergantungan AI dalam Melamar: Perusahaan mulai bisa mendeteksi CV yang sepenuhnya ditulis oleh AI. Tambahkan sentuhan personal dan kisah unik mengenai diri kita.