MALEINSPIRE.id – Momen setelah roda pesawat terbang menyentuh landasan pacu sering kali menjadi ujian kesabaran bagi banyak orang.
Suasana kabin yang semula tenang seketika berubah menjadi hiruk-pikuk layaknya garis start lomba lari; penumpang berebut berdiri, membuka bagasi, dan memaksakan diri maju meski belum gilirannya.
Di kalangan kru kabin, perilaku ini memiliki istilah khusus yang cukup menyentil: “aisle lice“.
Apa itu fenomena aisle lice saat bepergian dengan pesawat terbang?

Istilah aisle lice merujuk pada penumpang yang langsung berdiri dan merangsek ke lorong kabin segera setelah pesawat terbang berhenti, bahkan sebelum lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan.
Mereka cenderung mendorong diri ke depan demi mencoba turun lebih cepat dari barisan di hadapannya.
Menurut Cecily Anderson, pramugari profesional, perilaku ini tidak hanya dianggap tidak sopan, tetapi juga kontraproduktif.
“Ini seperti memotong antrean di taman hiburan, namun dampaknya terasa secara global,” ujarnya.
Alih-alih mempercepat, aksi serobot ini justru sering kali menghambat aliran penumpang dan memperlambat proses deplaning secara keseluruhan.
Dampak buruk bagi penumpang lain
Masalah utama dari perilaku ini bukan sekadar soal etika, melainkan hambatan bagi mereka yang memiliki agenda mendesak.
Sering kali terdapat penumpang dengan jadwal penerbangan lanjutan (connecting flight) yang sangat ketat.
Di bandara besar, jarak antar gerbang bisa mencapai 1,5 hingga 2 kilometer.
Kehilangan waktu beberapa menit akibat lorong yang tersumbat oleh penumpang yang tidak sabaran bisa menyebabkan orang lain tertinggal pesawat terbang selanjutnya.
Kru kabin biasanya meminta penumpang tanpa koneksi mendesak untuk tetap duduk, namun imbauan ini sering kali diabaikan oleh para aisle lice.
Panduan etika turun pesawat yang baik

Agar proses turun dari pesawat berjalan lancar dan penuh rasa hormat, kru kabin menyarankan beberapa langkah sederhana berikut:
-
Tetap Duduk Hingga Giliran Baris Kita: Kita diperbolehkan berdiri sejenak untuk meluruskan kaki, namun jangan mengambil posisi di lorong atau mencoba melewati baris di depan kita.
-
Siapkan Barang Bawaan Sejak Awal: Pastikan jaket, tas kecil, atau alas kaki sudah siap sebelum giliranmu tiba, sehingga tidak menghambat antrean di belakang.
-
Patuhi Instruksi Kru: Jika pramugari meminta jalan bagi penumpang dengan jadwal mendesak, berikan ruang dengan tulus.
-
Hindari Membuka Bagasi Saat Pesawat Bergerak: Selain berbahaya, hal ini menciptakan ketegangan di dalam kabin.
-
Apresiasi Kru Kabin: Mengucapkan terima kasih saat melangkah keluar sangat berarti bagi kru yang tetap bertugas menjaga ketertiban hingga penumpang terakhir turun.
Pada akhirnya, setiap penumpang akan keluar dari pesawat terbang yang sama.
Perbedaan utamanya terletak pada bagaimana kita memilih untuk mengakhiri perjalanan tersebut: dengan ketenangan dan sikap saling menghargai, atau dengan menciptakan rasa tidak nyaman bagi sesama pelancong.
Menjaga etika turun pesawat adalah cerminan dari kedewasaan dan empati kita sebagai pengguna moda transportasi publik.