4 Alasan Hotel Tidak Menyediakan Guling yang Jarang Diketahui Tamu

menyediakan guling

MALEINSPIRE.id – Saat kita menginap di hotel, mungkin kita penasaran mengapa hotel tidak menyediakan guling?

Hal ini sangat menarik bagi banyak orang, terutama bagi masyarakat Indonesia yang memiliki kebiasaan tidur dengan guling.

Meskipun guling telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perangkat tidur di rumah-rumah penduduk, kamu akan jarang menemukannya saat menginap di hotel berbintang.

Fenomena ini sering kali memicu rasa penasaran, mengingat banyak tamu merasa kualitas tidur mereka baru akan maksimal jika terdapat guling untuk didekap.

Higienitas dan Estetika jadi alasan Hotel Tidak Menyediakan Guling

Menurut para praktisi di industri properti dan perhotelan, tidak menyediakan guling bukan tanpa alasan yang kuat. Berikut adalah beberapa faktor utama yang mendasarinya:

1. Standar Klasifikasi Hotel Internasional

Guling bukanlah syarat wajib dalam standar pelayanan hotel berbintang, terutama yang mengacu pada standar internasional.

Hotel lebih mengutamakan penyediaan bantal kepala (pillows) dengan berbagai tingkat kelembutan sebagai standar utama.

Meski demikian, beberapa hotel tetap menyediakan guling sebagai opsi tambahan jika tamu memintanya secara khusus.

2. Pertimbangan Higienitas yang Ketat

menyediakan guling

Faktor kebersihan menjadi alasan hotel tidak menyediakan guling yang paling krusial.

Berbeda dari bantal yang hanya menopang kepala, guling biasanya bersentuhan langsung dengan seluruh bagian tubuh dalam waktu lama.

Risiko kontaminasi dari keringat, air liur, hingga cairan tubuh lainnya jauh lebih tinggi pada guling, sehingga pihak hotel memilih untuk menghindarinya demi menjaga standar sanitasi yang tinggi.

3. Estetika dan Kesan Luas pada Kamar

Dari sisi desain interior, keberadaan guling dinilai dapat merusak estetika tempat tidur.

Kamar hotel umumnya didesain untuk terlihat bersih, minimalis, dan mewah dengan konsep White Bed.

Keberadaan guling yang diletakkan di tengah kasur dianggap memberikan kesan sempit dan berantakan pada ranjang yang seharusnya terlihat lega dan mengundang.

4. Asal-Usul Budaya “Dutch Wife

Secara historis, penggunaan guling atau yang dikenal dengan istilah dutch wife merupakan budaya yang populer di era kolonial Belanda di Indonesia.

Namun, seiring berkembangnya standar perhotelan modern yang berkiblat pada budaya Barat (Eropa dan Amerika), penggunaan guling mulai ditinggalkan karena masyarakat global tidak memiliki kebiasaan serupa.

Solusi Bagi Tamu yang Membutuhkan Guling

Meskipun guling tidak diletakkan secara otomatis di atas kasur, banyak hotel berbintang yang tetap menyimpan persediaan guling di area housekeeping.

Jika kamu merasa sulit tidur tanpa kehadiran guling, bisa menghubungi staf hotel melalui telepon kamar untuk menanyakan ketersediaannya.

Biasanya, pihak hotel akan dengan senang hati menyediakannya selama persediaan masih ada tanpa dikenakan biaya tambahan.