Kisah Luca Zidane Menjaga Gawang Aljazair, Didukung Zinedine Zidane Sang Ayah

Luca Zidane

MALEINSPIRE.id – Gelaran Piala Afrika 2025 menjadi panggung spesial bagi sosok Luca Zidane.

Penjaga gawang milik klub Granada tersebut kini resmi berdiri di bawah mistar gawang Timnas Aljazair, sebuah keputusan besar yang melampaui sekadar karier profesional, namun juga menyentuh aspek identitas dan keluarga.

Perjalanan Luca bersama skuad “Fennec Foxes” dimulai secara resmi setelah ia mendapatkan restu dari FIFA pada 19 September 2025.

Tak butuh waktu lama bagi putra kedua Zinedine Zidane ini untuk unjuk gigi. Setelah melakoni debutnya melawan Uganda pada Oktober lalu, Luca Zidane mencatatkan performa gemilang pada laga perdana Grup E melawan Sudan, Rabu (24/12/2025).

Bertempat di Stade Prince Moulay Hassan, Maroko, Luca sukses menjaga gawangnya tetap suci (clean sheet) dalam kemenangan telak Aljazair 3-0.

Penghormatan Luca Zidane untuk sang kakek

Luca Zidane

Di balik keputusannya memilih Aljazair daripada Prancis, terdapat ikatan batin yang kuat dengan sang kakek.

Luca Zidane mengungkapkan bahwa budaya Aljazair telah mengakar dalam keluarganya sejak ia masih kecil.

“Setiap kali saya memikirkan Aljazair, saya teringat kakek saya. Saya berbicara dengannya sebelum memutuskan bergabung dengan tim nasional, dan dia sangat bahagia,” kata Luca kepada beIN Sports France.

Bagi Luca, setiap panggilan internasional bukan sekadar tugas negara, melainkan momen emosional antara dirinya dan sang kakek.

“Dia selalu menelepon saya dan mengatakan betapa bangganya dia atas keputusan yang saya buat. Menghormatinya melalui tim nasional adalah hal yang sangat penting bagi saya.”

Dukungan penuh dari sang ayah, Zinedine Zidane

Meskipun ayahnya, Zinedine Zidane adalah sosok legendaris yang membawa Prancis meraih kejayaan dunia, ia sama sekali tidak menghalangi langkah putranya.

Sebaliknya, Zinedine memberikan ruang bagi Luca untuk menentukan takdirnya sendiri.

“Ayah mendukung saya sepenuhnya. Dia berpesan agar saya berhati-hati dan menyadari bahwa ini adalah pilihan hidup saya sendiri.”

“Dia memberi nasihat, tetapi keputusan akhir tetap di tangan saya,” kenang Luca mengenai diskusinya dengan sang ayah.

Keputusan tersebut semakin mantap setelah Luca berkomunikasi dengan pelatih dan presiden federasi sepak bola Aljazair.

Baginya, mewakili negara leluhurnya adalah sebuah kehormatan yang ingin ia persembahkan secara khusus bagi keluarganya.

Sebagai bentuk dedikasi, Luca berjanji bahwa jersei tim nasional berikutnya yang ia kenakan akan dipersembahkan secara khusus untuk sang kakek.

Kini, dengan semangat baru dan warisan nama besar di punggungnya, Luca Zidane siap mengawal ambisi Aljazair untuk meraih takhta tertinggi di kancah sepak bola Afrika.