3 Langkah Ampuh untuk Mengakhiri Kebiasaan Menunda Sesuatu, bisa Dicoba

Kebiasaan menunda sesuatu

MALEINSPIRE.id – Banyak orang menganggap kebiasaan menunda sesuatu sebagai bentuk kemalasan atau manajemen waktu yang buruk.

Namun, bagi para ahli saraf (neurosains), hal ini sebenarnya adalah pertempuran biologis yang terjadi di dalam otak kita.

Ini adalah konflik antara sistem limbik —bagian otak purba yang mencari kesenangan instan— dengan korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas perencanaan jangka panjang.

Memahami bahwa kebiasaan menunda sesuatu adalah masalah regulasi emosi, bukan sekadar masalah produktivitas, adalah kunci untuk mematahkannya.

Tips mengatasi kebiasaan menunda sesuatu

Kebiasaan menunda sesuatu

Berikut adalah strategi tiga langkah berbasis sains untuk membantu kita kembali memegang kendali.

1. Kenali “pembajakan” emosional

Langkah pertama bukan tentang membuat daftar tugas (to-do list), melainkan mengenali apa yang sedang terjadi di kepala kita.

Saat kamu menunda sebuah pekerjaan, otak sebenarnya sedang mencoba melindungi dari perasaan negatif yang diasosiasikan dengan tugas tersebut, seperti rasa takut gagal, bosan, atau rasa tidak aman.

Secara neurobiologis, amygdala seseorang mendeteksi “ancaman” pada tugas tersebut dan memicu respons stres. Strateginya? Berhenti sejenak dan beri nama pada emosi tersebut.

Dengan mengidentifikasi bahwa kita merasa “cemas” atau “kewalahan”, kita mengaktifkan korteks prefrontal untuk mulai mengambil alih kendali dari sistem limbik yang emosional.

2. Gunakan aturan “mikro-momentum”

Salah satu alasan utama kita memiliki kebiasaan menunda sesuatu adalah karena tugas tersebut terlihat seperti gunung yang mustahil didaki.

Otak manusia membenci ketidakpastian dan kompleksitas yang berlebihan. Untuk mengatasinya, kita harus “menipu” otak dengan mengecilkan hambatan masuk (barrier to entry).

Gunakan prinsip lima menit pertama. Usahakan mengerjakan tugas tersebut hanya selama lima menit.

Secara psikologis, beban berat untuk “menyelesaikan” digantikan oleh tugas ringan untuk “memulai”.

Sering kali, begitu kita mulai, sirkuit dopamin di otak akan aktif karena adanya kemajuan kecil, yang kemudian memberikan motivasi untuk terus melanjutkan.

3. Praktikkan pengampunan diri (self-compassion)

Mungkin terdengar kontradiktif, namun bersikap keras pada diri sendiri setelah menunda-nunda justru akan membuat kita semakin terjebak dalam siklus menunda sesuatu tersebut.

Penulisan jurnal medis sering menunjukkan bahwa rasa bersalah meningkatkan stres, yang kemudian memicu sistem limbik untuk mencari “pelarian” lebih lanjut (seperti bermain media sosial).

Studi dari Carleton University mengungkapkan bahwa mahasiswa yang memaafkan diri mereka sendiri karena menunda belajar untuk ujian pertama, justru belajar lebih giat untuk ujian berikutnya.

Dengan memaafkan diri sendiri, kita menurunkan respon stres dan memungkinkan otak untuk kembali fokus pada tujuan tanpa beban emosional yang menghambat.

Kebiasaan menunda vs produktivitas

Aspek Kebiasaan Menunda Sesuatu (Sistem Limbik) Produktivitas (Korteks Prefrontal)
Fokus Utama Kenyamanan jangka pendek Pencapaian jangka panjang
Respon terhadap Tugas Menghindari stres/kecemasan Memecah tugas menjadi langkah kecil
Efek Kimia Otak Dopamin instan (dari distraksi) Kepuasan dari pencapaian (Rewarding)

Melatih otak

Mengatasi kebiasaan menunda sesuatu adalah sebuah keterampilan, bukan bakat lahiriah.

Dengan mengenali konflik internal di otak, memulai dari langkah terkecil, dan berhenti menyalahkan diri sendiri, kamu sedang melatih jalur saraf baru yang lebih efisien.

Konsistensi dalam menerapkan tiga langkah ini akan mengubah struktur kerja otak kita menuju pola hidup yang lebih proaktif.