MALEINSPIRE.id – Istilah marriage is scary kini bukan lagi sekadar riuh rendah di linimasa media sosial, melainkan sebuah refleksi kegelisahan kolektif yang nyata di tengah masyarakat Indonesia.
Fenomena takut menikah ini telah bergeser dari sekadar tren digital menjadi realitas sosiologis yang signifikan.
Banyak generasi muda kini lebih memilih untuk menunda, bahkan menghindari ikatan pernikahan.
Ketakutan ini dipicu oleh maraknya isu perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga tingginya angka perceraian yang seliweran di ruang publik.
Tren marriage is scary: statistik yang berbicara

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa minat untuk membangun rumah tangga di Indonesia memang tengah mengalami penurunan tajam.
Dalam satu dekade terakhir, angka pernikahan di Indonesia merosot hingga sekitar 600.000 kasus. Membuktikan bahwa konsep marriage is scary bukan sekadar tren.
Pada tahun 2014, tercatat ada 2,1 juta pernikahan di Indonesia.
Namun, memasuki tahun 2024, angka tersebut anjlok menjadi hanya 1,4 juta. Berikut adalah rincian penurunan yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir:
-
2014: 2.110.776 pernikahan
-
2019: 1.968.978 pernikahan
-
2023: 1.577.255 pernikahan
-
2024: 1.478.302 pernikahan
Data tahun 2025 bahkan menunjukkan statistik yang lebih mencolok, di mana sekitar 71 persen pemuda Indonesia berstatus belum menikah.
Kondisi ini sering disebut dengan istilah waithood, yaitu fase di mana seseorang memilih menunda masa dewasa atau komitmen pernikahan.
Faktor psikologis di balik fenomena marriage is scary
Psikolog Danti Wulan menjelaskan bahwa fenomena marriage is scary dipengaruhi kuat oleh kondisi mental dan paradigma berpikir generasi Milenial serta Gen Z.
Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban sosial yang kaku, melainkan sebuah pilihan hidup yang penuh risiko.
Berikut adalah lima faktor psikologis utama yang melatarbelakangi tren tersebut:
1. Kecemasan akan kegagalan (vicarious trauma)

Paparan informasi tanpa batas mengenai konflik rumah tangga di media sosial menciptakan vicarious trauma atau trauma tidak langsung.
Seseorang merasa takut mengalami kegagalan yang sama meskipun mereka belum merasakannya sendiri.
Pernikahan pun tak lagi dilihat sebagai “tujuan akhir yang bahagia,” melainkan sebuah risiko besar bagi kesehatan mental.
2. Prioritas pada aktualisasi diri
Terjadi pergeseran nilai dari collectivism (mengikuti norma umum) menuju individualism (kebahagiaan diri sendiri).
Anak muda saat ini merasa perlu “menyelesaikan” diri mereka sendiri terlebih dahulu, baik secara mental, pendidikan, maupun karier, tanpa hambatan domestik.
Kebebasan pribadi seperti solo traveling dan eksplorasi hobi kini menjadi prioritas utama.
3. Kecemasan finansial (financial anxiety)
Biaya hidup yang terus merangkak naik dan harga properti yang kian tak terjangkau menciptakan beban mental yang berat.
Pernikahan sering kali diidentikkan dengan tuntutan ekonomi tinggi dan resepsi mewah.
Hal ini memicu rasa rendah diri (insecurity) yang membuat banyak orang merasa belum “layak” untuk berkomitmen. Karena bagi mereka, marriage is scary.
4. Perubahan standar pasangan yang lebih selektif
Psikologi modern mendorong generasi sekarang untuk mencari pasangan yang setara secara intelektual dan emosional (soulmate).
Generasi ini lebih memilih melajang dalam waktu lama daripada harus “salah pilih” pasangan yang tidak memiliki visi hidup yang sama.
5. Tekanan generasi sandwich (sandwich generation)
Banyak anak muda yang sudah terbebani secara psikologis karena harus menopang ekonomi orangtua maupun adik-adiknya.
Bagi mereka, menambah beban baru melalui pernikahan dianggap akan memperburuk keseimbangan hidup dan kesehatan mental mereka yang sudah rentan.