Ini Bedanya Memaafkan vs Berdamai, Sudah Tahu?

memaafkan

MALEINSPIRE.id – Memaafkan sering kali dianggap sebagai sebuah beban. Banyak dari kita merasa enggan memberi maaf karena mengira hal itu berarti kita harus kembali berteman, bersalaman, atau menjalin hubungan seperti sedia kala dengan orang yang telah menyakiti kita.

Padahal, menurut para pakar konseling, ada kesalahpahaman besar yang sering membuat kita terjebak dalam rasa sakit yang berkepanjangan.

Arti memaafkan yang sesungguhnya bukanlah tentang memaklumi kesalahan orang lain, melainkan tentang membebaskan diri kita sendiri dari belenggu kebencian.

Memaafkan vs berdamai: dua hal yang berbeda

Salah satu poin krusial yang perlu kita pahami adalah perbedaan antara memaafkan (forgiving) dan rekonsiliasi atau berdamai kembali (making up).

  • Memberi maaf adalah kerja mandiri: Ini adalah proses internal di mana kita memutuskan untuk melepaskan rasa marah dan keinginan untuk membalas dendam. Kamu bisa memaafkan seseorang di dalam hati tanpa perlu berbicara langsung dengan mereka.

  • Rekonsiliasi adalah kerja tim: Berdamai kembali membutuhkan kerja keras dari kedua belah pihak. Hal ini menuntut adanya perubahan perilaku dan pembangunan kembali kepercayaan yang telah rusak.

Artinya, kita bisa memberi maaf kepada seseorang sepenuhnya demi kedamaian batin kita, namun tetap memilih untuk tidak membiarkan orang tersebut kembali masuk ke dalam hidup kita.

Memberi maaf adalah hadiah untuk diri sendiri

memaafkan
Handsome man embracing woman calms in difficult moment. Husband hugging wife relieves stress from work or health. Friends and couple relationship concept.

Sering kali kita merasa bahwa dengan tetap marah, kita sedang “menghukum” orang yang bersalah.

Namun kenyataannya, menyimpan dendam justru ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Rasa marah yang kronis hanya akan merusak kesehatan mental dan fisik kita sendiri.

Dengan memberi maaf yang sesungguhnya, kita mengizinkan diri sendiri untuk sembuh.

Kita melepaskan beban berat yang selama ini kita pikul, sehingga kita bisa melangkah maju tanpa terus-menerus menoleh ke belakang pada luka lama.

Menetapkan batasan yang sehat

Memaafkan tidak berarti kamu menjadi lemah atau membiarkan diri kamu disakiti lagi.

Justru, memaafkan yang bijak disertai batasan (boundaries) yang kuat.

Kamu berhak berkata, “Aku sudah memaafkanmu, tapi aku tidak bisa lagi mempercayaimu atau berada di dekatmu.”

Langkah ini penting agar kita tidak terjebak dalam lingkaran toksik yang sama. Juga, kita menjadi lebih jernih dalam melihat situasi secara objektif dan memutuskan apa yang terbaik bagi masa depan kita.

Proses memaafkan memang tidak instan dan terkadang sangat menyakitkan. Namun, saat kita mulai memisahkan antara “melepaskan dendam” dan “menjalin hubungan kembali”, beban itu akan terasa jauh lebih ringan.