MALEINSPIRE.id – Dalam lembaran sejarah Perang Dunia II, nama Hermann Göring muncul sebagai salah satu figur paling berpengaruh sekaligus kontroversial di lingkaran inti Nazi.
Sebagai orang kedua setelah Adolf Hitler, ia bukan sekadar pejabat militer; Göring adalah simbol kemewahan, kekuasaan tak terbatas, dan arsitek di balik mesin teror yang melanda Eropa.
Namun, di balik seragam flamboyan dan medali-medali berkilaunya, tersimpan kisah kejatuhan yang tragis dan akhir hidup yang penuh drama.
Hermann Göring: dari jagoan udara menuju lingkaran kekuasaan

Perjalanan hidup Hermann Göring dimulai sebagai pahlawan perang.
Pada Perang Dunia I, ia adalah seorang pilot tempur legendaris yang menerima penghargaan militer tertinggi Jerman, Pour le Mérite.
Reputasinya sebagai penerus skuadron “Red Baron” yang gagah berani membuatnya menjadi aset berharga bagi Partai Nazi yang saat itu masih kecil.
Pertemuannya dengan Hitler pada tahun 1922 mengubah segalanya.
Hermann Göring menggunakan koneksi aristokratnya untuk membantu Hitler merangkul kalangan elit industri dan militer Jerman.
Meski sempat terluka parah dalam peristiwa Beer Hall Putsch yang gagal —kejadian yang memicu kecanduannya terhadap morfin seumur hidup— kesetiaannya kepada Hitler tak tergoyahkan, setidaknya untuk satu dekade berikutnya.
Membangun instrumen teror: Gestapo dan Luftwaffe
Ketika Nazi naik takhta pada 1933, Hermann Göring mengumpulkan jabatan layaknya koleksi seni.
Salah satu warisan paling kelamnya adalah pembentukan Gestapo (polisi rahasia negara) dan kamp konsentrasi pertama untuk membungkam lawan politik.
Meski kemudian ia menyerahkan kendali Gestapo kepada Heinrich Himmler, fondasi teror tersebut tetaplah karyanya.
Sebagai Panglima Tertinggi Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman), Göring membangun kekuatan udara yang sempat membuat dunia gemetar.
Ia juga memegang kendali penuh atas ekonomi Jerman melalui Rencana Empat Tahun, yang mempersiapkan industri negara untuk agresi perang besar-besaran.
Di bawah perintahnya pulalah, perintah untuk merumuskan “Final Solution” terhadap kaum Yahudi ditandatangani, mengukuhkan perannya dalam tragedi Holocaust.
Gaya hidup flamboyan di tengah penderitaan Eropa

Berbeda dari Hitler yang cenderung asketik, Göring dikenal karena kecintaannya pada kemewahan yang berlebihan.
Ia membangun istana megah bernama Carinhall, di mana ia memamerkan ribuan karya seni yang dijarah dari seluruh Eropa.
Göring sering terlihat mengganti seragamnya berkali-kali dalam sehari, mengenakan perhiasan mencolok, dan mengadakan perjamuan mewah saat rakyatnya mulai menderita akibat perang.
Namun, kejayaan ini mulai memudar seiring kekalahan Luftwaffe di Pertempuran Britania dan kegagalan menyuplai tentara Jerman di Stalingrad.
Hubungannya dengan Hitler meretak, memuncak pada April 1945 ketika ia mencoba mengambil alih kepemimpinan saat Hitler terkepung di Berlin.
Hitler menganggapnya sebagai pengkhianat dan memerintahkan penangkapannya.
Akhir yang dramatis di Pengadilan Nuremberg

Setelah Jerman menyerah, Göring menjadi tokoh Nazi dengan pangkat tertinggi yang diadili di Pengadilan Nuremberg.
Di pengadilan, ia tampil sebagai sosok yang arogan namun cerdas, mencoba membela diri dan ideologi Nazi dengan argumen-argumen yang tajam.
Meski begitu, bukti-bukti kejahatannya terhadap kemanusiaan terlalu besar untuk diabaikan.
Hakim menjatuhkan vonis mati dengan cara digantung.
Menolak untuk mati di tiang gantung yang ia anggap memalukan bagi seorang prajurit, Göring meminta hukuman tembak, namun permintaannya ditolak.
Hanya beberapa jam sebelum eksekusi dilaksanakan pada 15 Oktober 1946, Hermann Göring ditemukan tewas di selnya.
Ia mengakhiri hidupnya dengan menelan kapsul sianida yang diselundupkan, meninggalkan satu lagi misteri besar tentang bagaimana ia bisa mendapatkan racun tersebut di bawah pengawasan ketat Sekutu.