MALEINSPIRE.id – Fenomena kebencian terhadap grup musik tertentu sering kali menjadi bagian dari budaya pop, namun tidak ada yang mengalaminya sedalam Nickelback.
Band asal Kanada ini mencapai puncak popularitas luar biasa, namun di saat yang sama, mereka menjadi sasaran cemoohan kolektif di seluruh dunia.
Mengapa sebuah band yang menjual jutaan album bisa menjadi “musuh masyarakat” nomor satu dalam sejarah musik modern?
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai alasan di balik kebencian massal terhadap Nickelback dan bagaimana mereka berhasil bertahan di tengah badai kritik.
Nickelback: lahir di tengah tragedi dan kesuksesan instan
Nickelback merilis album ikonik mereka, Silver Side Up, tepat pada tanggal 11 September 2001 —salah satu hari tergelap dalam sejarah Amerika Serikat.
Di tengah kekacauan dan duka nasional atas serangan Menara Kembar WTC AS, lagu “How You Remind Me” muncul dan memberikan resonansi emosional yang kuat bagi jutaan orang.
Lagu ini mendominasi tangga lagu dan menjadi salah satu lagu yang paling banyak diputar di radio sepanjang masa.
Kesuksesan ini membuat band itu ada di mana-mana. Namun, justru popularitas yang masif inilah yang mulai memicu kejenuhan publik.
Chad Kroeger, sang vokalis, dikenal dengan gaya penulisan lagu yang sangat formulaik dan fokus pada kesuksesan komersial, yang bagi sebagian kritikus dianggap sebagai “dosa besar” dalam seni.
Lelucon yang menjadi senjata budaya
Kebencian terhadap Nickelback tidak muncul secara organik begitu saja.
Salah satu pemicu utamanya adalah lelucon dari komedian Brian Posehn dalam acara Tough Crowd di Comedy Central pada tahun 2003.
Ia melontarkan candaan bahwa musik Nickelback membuat orang ingin melakukan kekerasan.
Network tersebut kemudian memutar klip tersebut berulang-ulang dalam promo mereka selama berbulan-bulan, yang secara tidak langsung “mendidik” audiens bahwa membenci Nickelback adalah sebuah standar keren.
Sejak saat itu, membenci Nickelback berubah menjadi ritual sosial. Memiliki opini negatif terhadap band ini dianggap sebagai tanda bahwa seseorang memiliki selera musik yang baik.
Fenomena ini diperparah oleh internet dan kemunculan meme, yang menjadikan Nickelback sebagai bahan ejekan abadi.
Pertarungan melawan gatekeepers

Secara statistik, terdapat tren menarik: semakin tinggi angka penjualan album Nickelback, semakin buruk ulasan dari para kritikus musik.
Para kritikus merasa otoritas mereka terancam karena publik tetap mencintai musik yang mereka anggap “buruk”.
Nickelback pun terjepit di antara kesuksesan komersial yang masif dan penolakan total dari elit industri musik.
Namun, era tersebut kini telah berlalu. Dengan matinya “monokultur” atau sistem di mana semua orang mengonsumsi media yang sama, kita mungkin tidak akan pernah melihat fenomena band yang dibenci secara universal lagi.
Algoritma internet saat ini membuat setiap orang hidup dalam “gelembung” selera masing-masing, sehingga sulit bagi satu entitas untuk menjadi sasaran kebencian kolektif dunia.
Bertahan lebih lama dari lelucon
Terlepas dari semua cemoohan, Chad Kroeger dkk menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Saat band-band seangkatan mereka seperti The White Stripes atau The Strokes mulai menghilang, Nickelback tetap aktif melakukan tur dan merilis karya sampai hari ini.
Mereka memilih untuk tidak meminta maaf atas musik mereka dan berhasil membuktikan bahwa pada akhirnya, dukungan penggemar setia jauh lebih berharga daripada validasi para pencibir.