MALEINSPIRE.id – Hasil imbang 1-1 yang diraih Timnas Portugal saat bersua Republik Demokratik Kongo di laga perdana Piala Dunia 2026 langsung memicu gelombang evaluasi tajam terhadap Cristiano Ronaldo.
Sorotan utama dalam laga yang digelar di NRG Stadium, Houston tersebut tertuju pada performa Cristiano Ronaldo yang dinilai jauh dari ekspektasi.
Bermain penuh selama 90 menit sebagai starter, sang megabintang justru tampil melempem dengan hanya menyentuh bola sebanyak 25 kali dan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 67 menit pertama.
Tiga peluang yang didapatkannya di sisa laga pun melenceng, termasuk satu momentum emas umpan tarik Francisco Conceicao yang egois ia eksekusi sendiri, padahal posisi Bruno Fernandes di belakangnya jauh lebih menguntungkan.
Faktor Usia dan Penurunan Performa Cristiano Ronaldo
Mandulnya lini depan Portugal memantik reaksi keras dari mantan rekan setim Ronaldo di Manchester United, Paul Scholes.
Menurut Scholes, keberadaan CR7 di lapangan saat ini justru menempatkan pelatih Roberto Martinez dalam posisi dilematis yang tidak mudah.
Scholes menilai bahwa pada usia 41 tahun, posisi penyerang tengah bukanlah tempat yang ideal untuk bermain sejak menit awal, terutama ketika pertandingan menuntut adanya transisi permainan yang cepat.
Ia menyayangkan keputusan pelatih yang terus memaksakan Ronaldo tampil penuh.
Scholes menyarankan agar Martinez mulai berani mengambil keputusan taktis untuk merotasi atau menurunkan sang pemain di 15 menit terakhir saja sebagai pemain pengganti.
Lebih lanjut, Scholes meyakini faktor psikologis ikut memengaruhi Performa Cristiano Ronaldo.
Menurutnya, Cristiano pasti sangat kesal dan terganggu melihat rival abadinya, Lionel Messi, sukses mencetak hat-trick, sementara Kylian Mbappe mengemas dua gol di pertandingan lain.
Sisi Ego dan Tekanan dari Suporter

Pandangan kritis Scholes mendapat dukungan penuh dari eks gelandang Setan Merah lainnya, Nicky Butt.
Ia secara blak-blakan menyebut bahwa Martinez kini harus berhadapan dengan masalah ego besar sang kapten.
Butt menilai karakter ego sentris Cristiano Ronaldo berpotensi menjadi bom waktu bagi internal skuad, sebuah situasi pelik yang menurutnya serupa dengan apa yang terjadi saat Ronaldo kembali ke Manchester United untuk periode keduanya.
Kendati demikian, Butt juga memaklumi beban berat yang dipikul Martinez di kursi kepelatihan.
Tantangan Martinez bukan hanya soal taktik meredam ego pemain, melainkan juga tekanan masif dari para suporter fanatik.
“Kalau melihat pertandingan melawan Republik Demokratik Kongo, ada sekitar 20 ribu pendukung Portugal di stadion, dan sekitar 18 ribu di antaranya mengenakan jersey bertuliskan ‘Ronaldo 7’. Sebagai pelatih, itu juga harus Anda hadapi,” ujar Butt.